Jambi – Pagi itu, matahari baru saja naik di Bahar Unit 6, Jambi. Udara terasa sejuk, sementara embun masih menempel di dedaunan. Di kejauhan, hamparan perkebunan sawit terlihat mengelilingi sebuah rumah sederhana tempat Tumi tinggal.
Tumi adalah perempuan asal Sragen, Jawa Tengah, yang sudah lama menjalani kehidupan di tanah Jambi. Meski jauh dari kampung halaman, ia tidak pernah melupakan kebiasaan dan pengetahuan yang dibawa dari tanah Jawa. Salah satunya adalah meracik jamu gendong.
Di dapur kecil rumahnya, Tumi sudah sibuk sejak pagi. Di atas meja terdapat berbagai bahan yang telah disiapkan. Ada kunyit, jahe, kencur, temulawak, asam jawa, gula merah, beras, daun pandan, dan beberapa bahan rempah lainnya.
Dengan pisau kecil di tangannya, Tumi mulai mengupas kunyit.
“Kalau meracik jamu itu harus sabar. Bahannya harus bersih dan takarannya juga harus diperhatikan,” katanya sambil tersenyum.
Setelah kunyit selesai dikupas, Tumi mengambil beberapa ruas jahe. Jahe itu dicuci hingga bersih, kemudian dikupas tipis. Setelah itu, kencur juga disiapkan. Aroma khas rempah-rempah mulai memenuhi dapur.
Bagi Tumi, jamu bukan sekadar minuman tradisional. Jamu adalah bagian dari warisan keluarga yang harus tetap dijaga.
Racikan Jamu Gendong
Tumi kemudian menjelaskan beberapa jenis jamu yang biasa dibuatnya.
Pertama adalah jamu kunyit asam. Bahan utamanya kunyit dan asam jawa, biasanya ditambahkan gula secukupnya. Kunyit secara tradisional banyak digunakan dalam minuman jamu dan dikenal mengandung senyawa kurkumin. Jamu kunyit asam biasa diminum sebagai minuman penyegar.
Kemudian ada jamu beras kencur. Beras yang telah direndam dicampur dengan kencur, jahe, gula merah, dan bahan pelengkap lainnya. Minuman ini memiliki rasa manis dan aroma khas kencur. Secara tradisional, beras kencur dipercaya membantu memberikan rasa segar dan nyaman pada tubuh.
Ada pula jamu jahe. Jahe dimemarkan kemudian direbus dengan air dan dapat ditambahkan gula merah serta pandan. Jahe dikenal sebagai rempah yang memberikan rasa hangat dan secara tradisional digunakan untuk membantu mengurangi rasa tidak nyaman pada pencernaan.
Tumi juga menyiapkan jamu temulawak. Temulawak dicuci, dikupas, kemudian diiris dan direbus. Dalam penggunaan tradisional, temulawak sering dimanfaatkan sebagai minuman herbal untuk menjaga kebugaran dan mendukung nafsu makan.
“Jamu itu bukan obat ajaib. Tapi sebagai minuman tradisional, banyak orang merasa cocok dan nyaman setelah meminumnya,” ujar Tumi.
Ia selalu mengingatkan bahwa kebersihan bahan, air, peralatan, serta cara penyimpanan sangat penting. Jamu yang sudah dibuat sebaiknya segera dikonsumsi atau disimpan dengan cara yang aman agar tidak mudah terkontaminasi.
Lengkapnya Jamu di Meja Tumi
Pagi itu, meja Tumi semakin penuh. Botol-botol jamu berwarna kuning, cokelat, dan putih berjajar rapi.
Ada kunyit asam, beras kencur, jahe, temulawak, dan beberapa racikan rempah lainnya. Masing-masing memiliki aroma dan rasa yang berbeda.
Tumi kemudian memasukkan jamu ke dalam botol-botol kecil. Dahulu, jamu gendong identik dengan perempuan yang membawa botol-botol jamu menggunakan bakul atau kain gendongan. Tradisi tersebut menjadi salah satu bagian dari budaya jamu di Indonesia.
Meskipun sekarang zaman sudah berubah, Tumi tetap mempertahankan cara tradisional tersebut.
Baginya, setiap botol jamu memiliki cerita.
Ada cerita tentang kampung halaman di Sragen. Ada cerita tentang kehidupan baru di Jambi. Ada pula cerita tentang orang-orang yang tetap menjaga tradisi meskipun hidup jauh dari tanah kelahiran.
Warisan dari Tanah Jawa
Ketika matahari semakin tinggi, suara kendaraan mulai terdengar dari jalan perkebunan. Tumi menutup botol-botol jamunya.
Ia memandang sejenak ke arah perkebunan sawit yang mengelilingi rumahnya. “Di sini saya jauh dari Sragen. Tapi rasa kampung halaman tetap bisa saya bawa melalui jamu,” ucapnya.
Bagi Tumi, meracik jamu bukan hanya pekerjaan. Itu adalah cara sederhana untuk menjaga warisan leluhur.
Dari dapur kecil di Bahar Unit 6 Jambi, aroma kunyit, jahe, dan kencur terus menguar. Di tengah kehidupan modern dan luasnya perkebunan sawit, tradisi jamu gendong tetap hidup.
Pagi itu menjadi bukti bahwa sebuah tradisi tidak selalu harus tinggal di tempat asalnya. Ia bisa berjalan bersama manusia, berpindah dari satu daerah ke daerah lain, dan tetap tumbuh selama ada seseorang yang mau merawatnya.
Dengan tangan yang sederhana dan bahan-bahan dari alam, ia terus meracik rasa, menjaga tradisi, dan mengenalkan warisan jamu kepada lingkungan di sekitarnya.
Catatan: Manfaat jamu di atas merupakan penggunaan tradisional dan tidak menggantikan pengobatan medis. Efek setiap bahan dapat berbeda pada tiap orang.(Tim:Red) 

