Jumat, 2 Okt 2026
BERITA ISTANA
  • Berita Istana
  • TNI & POLRI
  • Budaya
  • Daerah
  • Pendidikan
  • Sport
  • E-Catalogue
  • PT. BERITA ISTANA NEGARA
    • Redaksi
    • Tentang Kami
    • Pedoman
    • Kontak kami
    • Karir
My News
  • BERITA ISTANA SRAGEN
  • BERITA ISTANA JAKARTA
  • BERITA ISTANA JATENG
  • PPWI JATENG
  • BERITA ISTANA PASURUAN
  • BERITA ISTANA JATIM
  • BERITA ISTANA KALBAR
  • BERITA ISTANA RIAU
  • BERITA ISTANA GROBOGAN
  • PPWI PUSAT
BERITA ISTANABERITA ISTANA
Font ResizerAa
  • Berita Istana
  • Budaya
  • Daerah
  • Pendidikan
  • Sport
  • TNI & POLRI
Search
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Kontak kami
  • Karir
Follow US
Berita IstanaDaerahPendidikanPT. BERITA ISTANA NEGARA

Pagi Itu di Bahar Unit 6 Jambi: Mbah Tumi dan Jamu Gendong dari Sragen

Berita Istana
Last updated: Senin, 17 Agustus 2026 11:05 11:05:33 am
By Berita Istana
Share
5 Min Read
SHARE

Jambi – Pagi itu, matahari baru saja naik di Bahar Unit 6, Jambi. Udara terasa sejuk, sementara embun masih menempel di dedaunan. Di kejauhan, hamparan perkebunan sawit terlihat mengelilingi sebuah rumah sederhana tempat Tumi tinggal.

Tumi adalah perempuan asal Sragen, Jawa Tengah, yang sudah lama menjalani kehidupan di tanah Jambi. Meski jauh dari kampung halaman, ia tidak pernah melupakan kebiasaan dan pengetahuan yang dibawa dari tanah Jawa. Salah satunya adalah meracik jamu gendong.

Di dapur kecil rumahnya, Tumi sudah sibuk sejak pagi. Di atas meja terdapat berbagai bahan yang telah disiapkan. Ada kunyit, jahe, kencur, temulawak, asam jawa, gula merah, beras, daun pandan, dan beberapa bahan rempah lainnya.
Dengan pisau kecil di tangannya, Tumi mulai mengupas kunyit.

“Kalau meracik jamu itu harus sabar. Bahannya harus bersih dan takarannya juga harus diperhatikan,” katanya sambil tersenyum.

Setelah kunyit selesai dikupas, Tumi mengambil beberapa ruas jahe. Jahe itu dicuci hingga bersih, kemudian dikupas tipis. Setelah itu, kencur juga disiapkan. Aroma khas rempah-rempah mulai memenuhi dapur.

Bagi Tumi, jamu bukan sekadar minuman tradisional. Jamu adalah bagian dari warisan keluarga yang harus tetap dijaga.

Restrukturisasi Keuangan Perkuat Kinerja 2025: Krakatau Steel Catat Laba USD 339,6 Juta dan Penguatan Ekuitas
India dan Indonesia Luncurkan Tahun Tagore–Dewantara, Rayakan Satu Abad Warisan Budaya dan Pendidikan Bersama
Tren Side Hustle Meningkat, Kemitraan Kuliner Mulai Dilirik sebagai Alternatif Penghasilan Tambahan
Wujudkan Kepedulian di Bulan Suci, BRI KC Jakarta Otista Salurkan Bingkisan untuk Anak Yatim melalui Kelurahan Bidara Cina

Racikan Jamu Gendong
Tumi kemudian menjelaskan beberapa jenis jamu yang biasa dibuatnya.

Pertama adalah jamu kunyit asam. Bahan utamanya kunyit dan asam jawa, biasanya ditambahkan gula secukupnya. Kunyit secara tradisional banyak digunakan dalam minuman jamu dan dikenal mengandung senyawa kurkumin. Jamu kunyit asam biasa diminum sebagai minuman penyegar.

Kemudian ada jamu beras kencur. Beras yang telah direndam dicampur dengan kencur, jahe, gula merah, dan bahan pelengkap lainnya. Minuman ini memiliki rasa manis dan aroma khas kencur. Secara tradisional, beras kencur dipercaya membantu memberikan rasa segar dan nyaman pada tubuh.

Ada pula jamu jahe. Jahe dimemarkan kemudian direbus dengan air dan dapat ditambahkan gula merah serta pandan. Jahe dikenal sebagai rempah yang memberikan rasa hangat dan secara tradisional digunakan untuk membantu mengurangi rasa tidak nyaman pada pencernaan.

Tumi juga menyiapkan jamu temulawak. Temulawak dicuci, dikupas, kemudian diiris dan direbus. Dalam penggunaan tradisional, temulawak sering dimanfaatkan sebagai minuman herbal untuk menjaga kebugaran dan mendukung nafsu makan.

“Jamu itu bukan obat ajaib. Tapi sebagai minuman tradisional, banyak orang merasa cocok dan nyaman setelah meminumnya,” ujar Tumi.

Ia selalu mengingatkan bahwa kebersihan bahan, air, peralatan, serta cara penyimpanan sangat penting. Jamu yang sudah dibuat sebaiknya segera dikonsumsi atau disimpan dengan cara yang aman agar tidak mudah terkontaminasi.

Lengkapnya Jamu di Meja Tumi
Pagi itu, meja Tumi semakin penuh. Botol-botol jamu berwarna kuning, cokelat, dan putih berjajar rapi.
Ada kunyit asam, beras kencur, jahe, temulawak, dan beberapa racikan rempah lainnya. Masing-masing memiliki aroma dan rasa yang berbeda.

Tumi kemudian memasukkan jamu ke dalam botol-botol kecil. Dahulu, jamu gendong identik dengan perempuan yang membawa botol-botol jamu menggunakan bakul atau kain gendongan. Tradisi tersebut menjadi salah satu bagian dari budaya jamu di Indonesia.

Meskipun sekarang zaman sudah berubah, Tumi tetap mempertahankan cara tradisional tersebut.
Baginya, setiap botol jamu memiliki cerita.

Ada cerita tentang kampung halaman di Sragen. Ada cerita tentang kehidupan baru di Jambi. Ada pula cerita tentang orang-orang yang tetap menjaga tradisi meskipun hidup jauh dari tanah kelahiran.

Warisan dari Tanah Jawa
Ketika matahari semakin tinggi, suara kendaraan mulai terdengar dari jalan perkebunan. Tumi menutup botol-botol jamunya.

Ia memandang sejenak ke arah perkebunan sawit yang mengelilingi rumahnya. “Di sini saya jauh dari Sragen. Tapi rasa kampung halaman tetap bisa saya bawa melalui jamu,” ucapnya.

Bagi Tumi, meracik jamu bukan hanya pekerjaan. Itu adalah cara sederhana untuk menjaga warisan leluhur.
Dari dapur kecil di Bahar Unit 6 Jambi, aroma kunyit, jahe, dan kencur terus menguar. Di tengah kehidupan modern dan luasnya perkebunan sawit, tradisi jamu gendong tetap hidup.

Pagi itu menjadi bukti bahwa sebuah tradisi tidak selalu harus tinggal di tempat asalnya. Ia bisa berjalan bersama manusia, berpindah dari satu daerah ke daerah lain, dan tetap tumbuh selama ada seseorang yang mau merawatnya.

Dengan tangan yang sederhana dan bahan-bahan dari alam, ia terus meracik rasa, menjaga tradisi, dan mengenalkan warisan jamu kepada lingkungan di sekitarnya.

Catatan: Manfaat jamu di atas merupakan penggunaan tradisional dan tidak menggantikan pengobatan medis. Efek setiap bahan dapat berbeda pada tiap orang.(Tim:Red)

TAGGED:BERITA ISTANA JAMBIBERITA ISTANA SRAGEN
Share This Article
Facebook Pinterest Whatsapp Whatsapp Telegram Email Copy Link Print
What do you think?
Love0
Sad0
Happy0
Sleepy0
Angry0
Dead0
Wink0
Cry0
Previous Article BRI Finance Perkuat Kualitas Pembiayaan, NPF Turun Menjadi 1,82% hingga Juli 2026
Next Article Winds of Wonders Ajak Keluarga Eksplorasi Imajinasi di Hublife
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru
Sanct Resmi Meluncur di Indonesia: Sosial Media yang Meminta Penggunanya Memulai dari Lima Orang Terdekat
Berita Istana
Samosir International Choir Competition 2026 Hadirkan Berbagai Penampilan di Marianna Resort
Berita Istana
Dupoin Futures Soroti Potensi Pelemahan USDJPY di Tengah Risiko Intervensi Jepang
Berita Istana
Moladin Hadirkan Program Sewa Kepemilikan Mobil Listrik untuk Driver Online
Berita Istana
Populer
Polemik Tambang Ilegal dan Sengketa Hak Waris di Cepogo Boyolali, Diduga Libatkan Oknum DPRD Fraksi Golkar
Berita Istana PT. BERITA ISTANA NEGARA
OTT Polres Grobogan: Dua Oknum Mengaku Wartawan Peras Perangkat Desa, Satu Ditangkap
Berita Istana Budaya
Anak SD di Sine Sragen Menjadi Korban Pemerkosaan, Polres Belum Ambil Tindakan
Berita Istana TNI & POLRI
Warga Desa Sigit Tangen Dihebohkan Harga Pupuk Subsidi Rp160 Ribu, Kadus dan Kades Terlibat Diduga Persulit Penyaluran
Berita Istana
BERITA ISTANA

Dikelola oleh:

BIRO PERS, MEDIA, DAN INFORMASI SEKRETARIAT BERITA ISTANA
Rejosari RT 003/00, Gilirejo Baru, Miri, Sragen, Jawa Tengah, Indonesia Kode Pos 57276

Email: ptberitaistananegara@gmail.com redaksiistananegara@gmail.com
Telepon: +62 852-5751-5757

Youtube X-twitter Whatsapp Tiktok Tiktok Tiktok

About Company

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak kami
  • Pedoman
  • Karir
©2018 Biro Pers, Media, dan Informasi Sekretariat Berita Istana. Design by ADJDEV
Welcome
Username or Email Address
Password

Lost your password?