Minggu, 25 Okt 2026
BERITA ISTANA
  • Berita Istana
  • TNI & POLRI
  • Budaya
  • Daerah
  • Pendidikan
  • Sport
  • E-Catalogue
  • PT. BERITA ISTANA NEGARA
    • Redaksi
    • Tentang Kami
    • Pedoman
    • Kontak kami
    • Karir
My News
  • BERITA ISTANA SRAGEN
  • BERITA ISTANA JAKARTA
  • BERITA ISTANA JATENG
  • PPWI JATENG
  • BERITA ISTANA PASURUAN
  • BERITA ISTANA JATIM
  • BERITA ISTANA KALBAR
  • BERITA ISTANA GROBOGAN
  • BERITA ISTANA RIAU
  • PPWI PUSAT
BERITA ISTANABERITA ISTANA
Font ResizerAa
  • Berita Istana
  • Budaya
  • Daerah
  • Pendidikan
  • Sport
  • TNI & POLRI
Search
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Kontak kami
  • Karir
Follow US
Berita IstanaPT. BERITA ISTANA NEGARATNI & POLRI

Fenomena “Ora Nduwe Isin” dan Senyum Pepesan Kosong Kemunafikan

Berita Istana
Last updated: Minggu, 25 Oktober 2026 09:43 9:43:16 am
By Berita Istana
Share
5 Min Read
SHARE

Jawa Tengah – Frasa “ora nduwe isin” (tidak punya rasa malu) kini sudah jarang terdengar di tengah perbincangan masyarakat, baik dari kalangan anak-anak hingga dewasa. Padahal dulu semasa kecil, frasa ini sering kali diucapkan setiap ada sikap yang dianggap tabu. Ketika kita hendak mencuri pentil (buah mangga muda), rambutan, atau tebu di sawah tetangga, orang tua akan langsung menegur, “Ojo, mundak diarani ora nduwe isin” (Jangan, nanti disebut tidak punya rasa malu). Dalam budaya masyarakat, khususnya Jawa, frasa ini bukan sekadar ejekan biasa. Ia adalah tingkatan kritik sosial tertinggi yang menandakan bahwa seseorang telah kehilangan kehormatan, harga diri, dan kompas moralnya.

Namun, zaman telah berubah. Setiap kali membuka ponsel dan membaca berita terbaru di berbagai platform media, isinya kebanyakan tentang kebobrokan moral yang terjadi di tengah masyarakat hingga institusi pemerintahan. Penilaian ini bukan datang dari saya pribadi, melainkan dari para ahli dan komentar masyarakat yang peduli tentang rusaknya keadaan. Di era digital saat ini, krisis moral di masyarakat semakin nyata karena hilangnya rasa malu dan etika. Kasus korupsi, perselingkuhan, hingga pergaulan bebas kini marak terjadi dari lingkungan sekitar hingga tingkat nasional. Hal-hal buruk yang dulunya dianggap sebagai aib memalukan, sekarang justru dipamerkan secara terbuka di media sosial tanpa ada lagi rasa bersalah.

Kondisi ini diperparah oleh teknologi ponsel dan algoritma media sosial yang hanya mengejar perhatian publik. Batas privasi menjadi hilang demi mengejar popularitas, jumlah penonton, dan materi. Alih-alih dihukum secara sosial, para pelaku pelanggaran etika ini justru sering kali diberi panggung dan menjadi viral. Dampaknya, masyarakat menjadi terbiasa dan maklum dengan perilaku menyimpang tersebut. Pamer aurat, pamer kemesraan, berjoget tidak keruan di atas panggung, aksi saweran, dan hal-hal memalukan lainnya justru sengaja dibuat sebagai konten demi mengejar status viral.

Fenomena ini mengingatkan saya pada petuah guru panutan saya. Meskipun beliau sering disebut sebagai “Kiai Ndeso”, saya sangat mengaguminya karena beliau mampu membaca keadaan dengan sangat jernih. Beliau sempat berujar, “Wis, blass jian do ora nduwe isin babar pisan. Piye ya, imane wis do tipis, opo ancen wis ora ono. Lha wis ra jajal takoni wong sing pinter-pinter.” (Sudah sama sekali tidak punya rasa malu. Bagaimana ya, imannya sudah menipis atau memang sudah tidak ada. Coba ditanyakan ke orang-orang ahli).

Kegelisahan sang kiai sebenarnya telah diperingatkan oleh Nabi Muhammad SAW ribuan tahun lalu. Dalam sebuah hadits riwayat Imam Bukhari, Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya di antara ungkapan yang dikenal manusia dari perkataan nubuat terdahulu adalah: Jika kamu tidak mempunyai rasa malu, maka berbuatlah sesukamu.” Hadits ini bukan sebuah izin untuk bebas bermaksiat, melainkan sebuah sindiran sekaligus ancaman keras. Artinya, jika rasa malu seseorang sudah hilang, maka tidak ada lagi pembatas antara dirinya dan kehinaan. Ia akan melegalkan segala cara tanpa peduli dosa ataupun etika.

Peringatan tersebut selaras dengan teori psikologi moral. Rasa malu seharusnya berfungsi sebagai kontrol otomatis atau “rem moral” agar seseorang tidak berbuat jahat. Ketika rem moral ini rusak, aturan hukum formal maupun norma agama sekeras apa pun tidak akan lagi ditakuti karena manusia telah kehilangan kesadaran diri untuk mematuhinya.

Hangatkan Suasana Ramadan, KAI Logistik Berbagi Ratusan Paket Berbuka Puasa
Dugaan Bobroknya Satnarkoba Polres Buleleng: Nama IPDA Gede Agus Widhi Mencuat, Bandar Diduga “Dikondisikan”, Kapolres Janji Telusuri
Asri Purwanti Temui Jokowi, Minta Doa Restu Jelang Pelantikan Pengurus Indonesia Boxing Association Jateng 2026–2031
Edutrain KAI Bandara Sumatera Utara Layani 69 Ribu Peserta Sepanjang 2025

Ironisnya, kerusakan moral ini sering kali dibungkus rapat-rapat oleh senyum pepesan kosong kemunafikan. Di ruang publik, banyak orang sibuk menampilkan citra suci, santun, dan taat aturan. Namun, keadaan yang terjadi di balik layar justru sebaliknya; perilaku aslinya sangat busuk. Jika kemunafikan dan hilangnya rasa malu ini terus dibiarkan mengakar, bangsa kita akan menghadapi kehancuran moral di mana masyarakat tidak bisa lagi membedakan mana yang benar dan mana yang salah.

Esai ini saya tutup dengan menyelipkan kembali sendau gurau dari sang Kiai Ndeso yang sebetulnya bernada “sersan”—serius tapi santai: “Ojo sampek awak dewe seneng topengan, urip sak titahe, jajal tah rasakno, penak-penak.” (Jangan sampai kita suka memakai topeng kemunafikan, hiduplah apa adanya sesuai kodrat sebagai makhluk, cobalah rasakan, pasti lebih tenang dan nyaman)

Moh. Aslim Akmal – Pegiat Sejarah dan Budaya Kudus Kulon – tinggal di Kudus – 25 Oktober 2026

TAGGED:SMSI SOLO RAYA
Share This Article
Facebook Pinterest Whatsapp Whatsapp Telegram Email Copy Link Print
What do you think?
Love0
Sad0
Happy0
Sleepy0
Angry0
Dead0
Wink0
Cry0
Previous Article Tuduh Wartawan “Bodrex”, Heri Sweke Hari ini Akan Dilaporkan ke Polres Grobogan, SMSI Solo Raya Siap Kawal hingga Tuntas!
Next Article Perkuat Budaya Keselamatan, PT Pelindo Sinergi Lokaseva Tingkatkan Kesiapsiagaan Pekerja Hadapi Keadaan Darurat
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru
Sering Ganti Jualan, Efektifkah? Kenali Cara Mengelola Usaha agar Lebih Terarah
Berita Istana
Tren Streaming Multiplatform Makin Ramai, Ini yang Perlu Diperhatikan Streamer
Berita Istana
Perkuat Budaya Keselamatan, PT Pelindo Sinergi Lokaseva Tingkatkan Kesiapsiagaan Pekerja Hadapi Keadaan Darurat
Berita Istana
Tuduh Wartawan “Bodrex”, Heri Sweke Hari ini Akan Dilaporkan ke Polres Grobogan, SMSI Solo Raya Siap Kawal hingga Tuntas!
Berita Istana PT. BERITA ISTANA NEGARA
Populer
Polemik Tambang Ilegal dan Sengketa Hak Waris di Cepogo Boyolali, Diduga Libatkan Oknum DPRD Fraksi Golkar
Berita Istana PT. BERITA ISTANA NEGARA
OTT Polres Grobogan: Dua Oknum Mengaku Wartawan Peras Perangkat Desa, Satu Ditangkap
Berita Istana Budaya
Anak SD di Sine Sragen Menjadi Korban Pemerkosaan, Polres Belum Ambil Tindakan
Berita Istana TNI & POLRI
Warga Desa Sigit Tangen Dihebohkan Harga Pupuk Subsidi Rp160 Ribu, Kadus dan Kades Terlibat Diduga Persulit Penyaluran
Berita Istana
BERITA ISTANA

Dikelola oleh:

BIRO PERS, MEDIA, DAN INFORMASI SEKRETARIAT BERITA ISTANA
Rejosari RT 003/00, Gilirejo Baru, Miri, Sragen, Jawa Tengah, Indonesia Kode Pos 57276

Email: ptberitaistananegara@gmail.com redaksiistananegara@gmail.com
Telepon: +62 852-5751-5757

Youtube X-twitter Whatsapp Tiktok Tiktok Tiktok

About Company

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak kami
  • Pedoman
  • Karir
©2018 Biro Pers, Media, dan Informasi Sekretariat Berita Istana. Design by ADJDEV
Welcome
Username or Email Address
Password

Lost your password?