JAKARTA, – Direktur Utama PT Berita Istana Negara (PT BIN), Warsito, melontarkan kritik keras terhadap sejumlah elite politik yang dinilai mulai menunjukkan ambisi untuk menggantikan Wakil Presiden Republik Indonesia, Gibran Rakabuming Raka.
Warsito mengingatkan bahwa jabatan Wakil Presiden merupakan amanah konstitusional yang diperoleh melalui proses demokrasi. Karena itu, menurutnya, siapa pun yang memiliki ambisi menduduki jabatan tersebut harus berani bersaing secara terbuka, bukan melalui pembentukan opini maupun serangan isu yang berpotensi menjatuhkan pihak lain.
“Para elite yang katanya pintar dan berpendidikan seharusnya bisa memahami bagaimana demokrasi berjalan. Jangan sampai ambisi politik membuat mereka menggunakan cara-cara yang tidak sehat. Kalau memang ingin menjadi Wakil Presiden, silakan maju secara terbuka. Jangan menggunakan cara-cara licik,” tegas Warsito, Sabtu (31/10/2026).
Warsito mengingatkan kembali bahwa pada Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024, masyarakat Indonesia telah menentukan pilihannya melalui pemungutan suara yang dilaksanakan pada Rabu, 14 Februari 2024.
Komisi Pemilihan Umum (KPU) kemudian menetapkan pasangan calon presiden dan wakil presiden nomor urut 02, Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka, sebagai pemenang Pilpres 2024 melalui rapat pleno terbuka pada Rabu, 20 Maret 2024.
Berdasarkan hasil rekapitulasi penghitungan suara nasional KPU, pasangan Prabowo-Gibran memperoleh 96.216.691 suara atau 58,58 persen.
Sementara pasangan Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar memperoleh 40.971.906 suara atau 24,95 persen. Adapun pasangan Ganjar Pranowo-Mahfud MD mendapatkan 27.050.878 suara atau 16,47 persen.
Total suara sah nasional mencapai 164.227.475 suara.
Menurut Warsito, kemenangan Prabowo-Gibran tidak bisa dilepaskan dari kepercayaan masyarakat terhadap kepemimpinan Presiden ke-7 RI, Joko Widodo (Jokowi), yang saat itu masih menjabat.
“Saya yakin kemenangan Prabowo-Gibran bukan semata-mata karena sosok Prabowo, tetapi juga karena kepercayaan dan kecintaan masyarakat terhadap kepemimpinan Presiden ke-7 RI, Joko Widodo. Jangan melupakan faktor tersebut,” ujar Warsito.
Soroti Pendidikan Gibran, Jangan Asal Membangun Opini
Warsito juga menyoroti berbagai perdebatan mengenai latar belakang pendidikan Gibran Rakabuming Raka yang belakangan kerap menjadi bahan pembicaraan di ruang publik.
Ia meminta masyarakat maupun elite politik memahami terlebih dahulu sistem pendidikan di Indonesia dan luar negeri sebelum menyampaikan penilaian.
Berdasarkan riwayat pendidikan yang selama ini disampaikan, Gibran pernah menempuh pendidikan di sejumlah lembaga luar negeri, di antaranya Orchid Park Secondary School di Singapura, UTS Insearch di Australia, Management Development Institute of Singapore (MDIS), serta University of Bradford di Inggris melalui kerja sama program pendidikan dengan MDIS.
“Jangan hanya karena sistem pendidikan luar negeri berbeda dengan Indonesia, kemudian dijadikan bahan untuk menyerang seseorang. Para elite yang mengaku berpendidikan seharusnya memahami perbedaan sistem pendidikan antarnegara,” ungkapnya.
Warsito menilai perdebatan mengenai ijazah dan latar belakang pendidikan tidak seharusnya dijadikan alat untuk membangun opini politik tanpa dasar dan bukti yang jelas.
“Rakyat sekarang semakin cerdas. Masyarakat ingin melihat hasil kerja nyata, bukan sekadar janji, apalagi isu-isu yang terus diproduksi untuk menyerang seseorang,” tambahnya.
Dukungan Relawan Gibran Menjadi Catatan Politik ; Warsito juga mengingatkan bahwa perjalanan politik Gibran pada Pilpres 2024 mendapat dukungan dari berbagai kelompok relawan.
Di antaranya organisasi yang dikenal dalam Presidium Relawan Gibran, seperti Bolone Mase, Bala Gibran, Beta Gibran, Kami Gibran, Bocahe Gibran Nusantara, ProGib Nusantara, Balad Gibran, Gibran Maju, Bolone Gibran Jawi Wetan, Gibran Penerus Jokowi, dan Kancane Mase.
Menurutnya, keberadaan berbagai kelompok relawan tersebut menjadi salah satu gambaran bahwa dukungan terhadap pasangan Prabowo-Gibran saat Pilpres 2024 melibatkan berbagai elemen masyarakat.
Ia meyakini bahwa hingga saat ini masih banyak masyarakat Indonesia yang memberikan dukungan kepada Gibran Rakabuming Raka.
Jangan Jadikan Ambisi Politik sebagai Alasan Menyerang ; Lebih lanjut, Warsito menegaskan bahwa dinamika politik menjelang Pilpres 2029 seharusnya menjadi ajang adu gagasan, rekam jejak, dan kemampuan dalam membangun bangsa.
Ia mengingatkan agar persaingan politik tidak berubah menjadi upaya saling menjatuhkan melalui isu-isu yang belum terbukti kebenarannya.
“Kalau memang ada elite yang bermimpi menjadi Wakil Presiden, silakan persiapkan diri, bangun kepercayaan rakyat, dan maju melalui mekanisme demokrasi. Jangan menggunakan isu untuk menjatuhkan Wakil Presiden yang sedang menjalankan amanah rakyat,” tegasnya.
Warsito menambahkan, rakyat Indonesia membutuhkan pemimpin yang mampu bekerja, memberikan solusi, dan membawa perubahan nyata bagi masyarakat.
“Percayalah, rakyat tidak hanya melihat siapa yang paling pintar berbicara atau siapa yang memiliki gelar pendidikan tinggi. Rakyat melihat siapa yang benar-benar bekerja. Jangan meremehkan pilihan rakyat Indonesia,” pungkas Warsito.
(Redaksi Mata Jateng)
Keterangan Foto Edit Melalui AI

