Kamis, 8 Okt 2026
BERITA ISTANA
  • Berita Istana
  • TNI & POLRI
  • Budaya
  • Daerah
  • Pendidikan
  • Sport
  • E-Catalogue
  • PT. BERITA ISTANA NEGARA
    • Redaksi
    • Tentang Kami
    • Pedoman
    • Kontak kami
    • Karir
My News
  • BERITA ISTANA SRAGEN
  • BERITA ISTANA JAKARTA
  • BERITA ISTANA JATENG
  • PPWI JATENG
  • BERITA ISTANA PASURUAN
  • BERITA ISTANA JATIM
  • BERITA ISTANA KALBAR
  • BERITA ISTANA RIAU
  • BERITA ISTANA GROBOGAN
  • PPWI PUSAT
BERITA ISTANABERITA ISTANA
Font ResizerAa
  • Berita Istana
  • Budaya
  • Daerah
  • Pendidikan
  • Sport
  • TNI & POLRI
Search
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Kontak kami
  • Karir
Follow US
Berita IstanaPT. BERITA ISTANA NEGARATNI & POLRI

Warsito Tegaskan, 1 Hektare Bisa Hasilkan 5–6 Ton, Kilas Balik 1984 Pernah Capai 14 Ton

Berita Istana
Last updated: Kamis, 8 Oktober 2026 20:37 8:37:04 pm
By Berita Istana
Share
5 Min Read
SHARE

JAKARTA — Persoalan produktivitas pertanian dan kesehatan tanah menjadi perhatian Warsito. Menurutnya, peningkatan hasil pertanian tidak cukup hanya dengan mengandalkan pupuk kimia, tetapi harus diimbangi dengan penggunaan bahan organik, bibit unggul, serta pengelolaan lahan yang tepat.

Warsito mengatakan, saat ini produktivitas padi di sejumlah lahan masih berada pada kisaran 5–6 ton per hektare. Namun, jika melihat kembali pengalaman pertanian pada masa lalu, khususnya sekitar tahun 1984, hasil panen dalam satu hektare disebut pernah mencapai sekitar 14 ton.

“Kalau kita melihat kilas balik tahun 1984, hasil panen per hektare pernah mencapai sekitar 14 ton. Sekarang kita banyak menemukan hasil sekitar 5 sampai 6 ton per hektare. Ini harus menjadi bahan evaluasi bersama, bagaimana tanah kita dikelola agar produktivitas pertanian bisa kembali meningkat,” ujar Warsito.

Tanah Harus Dijaga
Warsito menilai salah satu hal penting yang harus diperhatikan adalah kondisi tanah. Menurutnya, penggunaan pupuk urea secara terus-menerus tanpa diimbangi bahan organik perlu dievaluasi.

“Tanah kita jangan sampai semakin kehilangan kesuburannya. Penggunaan pupuk kimia harus diimbangi dengan bahan organik. Kalau hanya mengejar produksi tanpa menjaga tanah, dalam jangka panjang kita yang akan mengalami kerugian,” tegasnya.

Ia mencontohkan kondisi pertanian di sejumlah negara yang menurutnya dapat menjadi pelajaran bagi Indonesia, termasuk Ukraina. Namun, ia menekankan bahwa setiap negara memiliki kondisi tanah, iklim, varietas tanaman, dan sistem pertanian yang berbeda sehingga tidak bisa dibandingkan secara langsung.

Pelindo Multi Terminal Bumiharjo Bagendang Catat Kinerja Positif Sepanjang 2025
Film Baby Udon Bagikan First Look, Perjuangan Fanny dan Hajime Kondoh Mendapatkan Buah Hati Di Tengah Sakit Kanker
Kejar Target ROA 7,6% di 2029, PTPN Group Perkuat Tata Kelola Optimalisasi Aset
Bertepatan HUT ke-81 RI, FisTx Kenalkan Solusi Teknologi Terlengkap, Jadikan Tambak Merdeka Dari Masalah Klasik

Menurut Warsito, kompos dan pupuk organik perlu lebih banyak dimanfaatkan untuk membantu menjaga kandungan bahan organik tanah.

“Supaya tanah tidak cepat rusak dan produksi pertanian tetap maksimal, penggunaan kompos harus ditingkatkan. Pupuk kimia tetap bisa digunakan sesuai kebutuhan tanaman, tetapi jangan melupakan bahan organik,” katanya.

Bibit Unggul Jadi Kunci
Warsito juga menilai keberhasilan seorang petani tidak hanya ditentukan oleh pupuk. Faktor pertama yang harus diperhatikan adalah bibit unggul yang sesuai dengan kondisi lahan.

“Untuk menjadi petani yang maksimal, pertama harus memilih bibit yang bagus. Kemudian pupuknya juga harus tepat dan berkualitas. Dengan pengelolaan yang baik, produktivitas tentu bisa meningkat,” jelasnya.

Ia menyebut peningkatan hasil hingga beberapa ton per hektare dapat menjadi target yang perlu diupayakan. Namun, keberhasilan tersebut menurutnya harus dibuktikan melalui praktik di lapangan, karena setiap lahan memiliki karakteristik berbeda.

Selain bibit dan pupuk, faktor lain seperti ketersediaan air, kualitas tanah, jarak tanam, pengendalian hama dan penyakit, serta teknik budidaya juga sangat menentukan hasil panen.

Air Lindi Bisa Dikembangkan sebagai Pupuk : Warsito juga menyoroti potensi air lindi sebagai bahan yang dapat dikembangkan menjadi pupuk atau pembenah tanah.

Menurutnya, limbah organik jangan hanya dipandang sebagai sampah. Dengan pengolahan yang tepat, sebagian hasil penguraian bahan organik berpotensi dimanfaatkan kembali dalam sistem pertanian.

“Air lindi bisa menjadi salah satu bahan yang kita kaji untuk pertanian. Tetapi tentu harus melalui proses pengolahan dan pengujian terlebih dahulu. Jangan langsung diberikan ke tanaman tanpa mengetahui kandungan dan keamanannya,” ujarnya.

Ia menegaskan, air lindi dari sampah organik yang terkontrol harus dibedakan dengan lindi dari sampah campuran yang berpotensi mengandung bahan berbahaya.

Pertanian Harus Berkelanjutan
Warsito berharap pengembangan pertanian ke depan tidak hanya mengejar jumlah produksi, tetapi juga menjaga kesehatan tanah.

Menurutnya, petani perlu menerapkan pola pertanian yang menggabungkan bibit unggul, pemupukan berimbang, kompos, pengelolaan air, serta teknologi pertanian.

“Jangan hanya berpikir bagaimana hari ini bisa panen banyak. Kita juga harus berpikir bagaimana tanah tetap subur untuk 10, 20 bahkan 50 tahun ke depan. Tanah adalah modal utama petani,” tegas Warsito.

Ia berharap pemerintah, akademisi, penyuluh pertanian, pelaku usaha dan petani dapat bersama-sama melakukan penelitian serta uji lapangan untuk menemukan pola budidaya yang mampu meningkatkan produktivitas sekaligus mempertahankan kesuburan tanah.

“Kalau tanah sehat, bibit bagus, pupuk tepat dan air tersedia, insyaallah produktivitas pertanian bisa maksimal. Pertanian bukan hanya soal panen hari ini, tetapi soal menjaga kehidupan untuk generasi berikutnya,” pungkas Warsito.

Sumber : Andrie Tjioe

TAGGED:BERITA ISTANA JAKARTABERITA ISTANA SRAGENSMSI JATENG
Share This Article
Facebook Pinterest Whatsapp Whatsapp Telegram Email Copy Link Print
What do you think?
Love0
Sad0
Happy0
Sleepy0
Angry0
Dead0
Wink0
Cry0
Previous Article FLOQ Hadir di TOKEN2049 Singapore 2026, Momentum Besar Industri Kripto Global
Next Article Hanya Bermodal Kwitansi dan Janji, Pengusaha Kapling AB dan WN Dilaporkan ke Polres Pasuruan, Korban Klaim Rugi Rp.29 Juta
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru
Hanya Bermodal Kwitansi dan Janji, Pengusaha Kapling AB dan WN Dilaporkan ke Polres Pasuruan, Korban Klaim Rugi Rp.29 Juta
Berita Istana PT. BERITA ISTANA NEGARA
FLOQ Hadir di TOKEN2049 Singapore 2026, Momentum Besar Industri Kripto Global
Berita Istana
Brewkasi 2026 Bawa Serunya Dunia Kopi ke GGP
Berita Istana
Uang Nganggur Freelancer: Berapa Dana Darurat yang Perlu Disiapkan?
Berita Istana
Populer
Polemik Tambang Ilegal dan Sengketa Hak Waris di Cepogo Boyolali, Diduga Libatkan Oknum DPRD Fraksi Golkar
Berita Istana PT. BERITA ISTANA NEGARA
OTT Polres Grobogan: Dua Oknum Mengaku Wartawan Peras Perangkat Desa, Satu Ditangkap
Berita Istana Budaya
Anak SD di Sine Sragen Menjadi Korban Pemerkosaan, Polres Belum Ambil Tindakan
Berita Istana TNI & POLRI
Warga Desa Sigit Tangen Dihebohkan Harga Pupuk Subsidi Rp160 Ribu, Kadus dan Kades Terlibat Diduga Persulit Penyaluran
Berita Istana
BERITA ISTANA

Dikelola oleh:

BIRO PERS, MEDIA, DAN INFORMASI SEKRETARIAT BERITA ISTANA
Rejosari RT 003/00, Gilirejo Baru, Miri, Sragen, Jawa Tengah, Indonesia Kode Pos 57276

Email: ptberitaistananegara@gmail.com redaksiistananegara@gmail.com
Telepon: +62 852-5751-5757

Youtube X-twitter Whatsapp Tiktok Tiktok Tiktok

About Company

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak kami
  • Pedoman
  • Karir
©2018 Biro Pers, Media, dan Informasi Sekretariat Berita Istana. Design by ADJDEV
Welcome
Username or Email Address
Password

Lost your password?