Pelayanan Samsat Polres Sragen Perlu Mendapatkan Apresiasi

Berita Istana
5 Min Read
Versi Novel – Minggu, 30 November 2025 Redaksi Berita Istana

Sragen – Pagi Jumat itu, 28 November 2025, jarum jam baru saja menunjukkan pukul 10.30 WIB ketika suasana di halaman Samsat Polres Sragen terlihat ramai namun tertib. Matahari belum begitu terik, tapi udara sudah cukup hangat saat seorang pemuda bernama Rico Yogi Pratama (24), warga Celep, Kedawung, Sragen, mengendarai sepeda motor Honda Astrea/C100 milik kakeknya, Manto Wiyono, menuju kantor Samsat.

Motor tua itu bergetar pelan, knalpotnya mengeluarkan suara parau khas kendaraan yang sudah berumur. Meski begitu, Rico mengendarainya dengan hati-hati—sadar bahwa motor butut itu menyimpan banyak kenangan dan merupakan satu-satunya kendaraan yang dimiliki sang kakek. Hari itu, tujuannya sederhana namun penting: membayar pajak motor yang telah mati sejak 2018.

Sesampainya di Samsat, Rico turun dari motor dan menarik napas panjang sebelum melangkah masuk ke ruang pelayanan. Tidak disangka, ia langsung disambut oleh anggota Samsat dengan sikap ramah.

“Selamat pagi, ada yang bisa dibantu mas?” tanya petugas dengan nada bersahabat.

Rico menjelaskan bahwa ia ingin membayar pajak motor kakeknya yang sudah telat tujuh tahun lamanya. Petugas itu mendengarkan dengan sabar sebelum menjawab,
“Mas, kalau pajaknya sudah mati lama dan pemilik pertama alamatnya Karanganyar, harusnya pajaknya dilakukan di Samsat Karanganyar.”

Rico sempat terdiam. Jarak, waktu, dan proses yang ia bayangkan mendadak membuat dadanya terasa berat. Namun belum sempat ia memikirkan lebih jauh, seorang petugas berseragam rapi menghampirinya. Ia adalah Didik Purwanto, Baur Samsat yang dikenal tegas namun ramah.

Dengan suara tenang, Didik berkata,
“Mas, motornya memang harus pajak di Karanganyar. Tapi nggak usah repot-repot. Biar kami bantu uruskan. Nanti kalau sudah selesai, kita kabari.”

Rico sontak mengangkat wajah. Ada lega yang sulit disembunyikan.
“Serius, Pak? Wah… matur nuwun sanget,” ucap Rico sambil menirukan kembali pesan tersebut kepada awak media.

Petugas Samsat itu tersenyum. “Pelayanan itu memang tugas kami, mas.”

Kabar Baik untuk Sang Kakek ; Setibanya di rumah, Rico langsung menemui kakeknya. Dengan semangat, ia berkata,

“Kung, iki mau kudune pajek neng Karanganyar mergo sepedane wes mati suwe, telat ket mbiyen tahun 2018. Ning wis dibantu Pak Didik. Diuruske tekan Karanganyar.”

Mendengar itu, Manto Wiyono menatap motor tua di sudut halaman. Ada rasa lega dan haru. Motor yang sudah menemaninya puluhan tahun itu akhirnya bisa kembali legal digunakan di jalan raya.
“Sukur, Le… sukur. Wong sesepedaan ki yo penting,” ucapnya lirih namun penuh syukur.

Bukan Hanya Rico yang Merasakan. Di sebuah warung kopi di kota Sragen, seorang warga bernama Joko juga membenarkan hal serupa.
“Saya juga pernah pajak motor di Samsat Sragen. Pelayanannya apik, ramah, nggak ribet,” katanya sambil menyeruput kopi hitam yang masih mengepul.

Cerita Joko menguatkan bahwa pelayanan Samsat Polres Sragen tidak hanya baik pada satu atau dua orang, tetapi juga terasa oleh banyak warga.

Pelayanan cepat, responsif, dan humanis yang diberikan Samsat Polres Sragen pada hari itu menunjukkan sebuah langkah nyata dalam meningkatkan kualitas pelayanan publik.
Bagi warga seperti Rico dan Manto Wiyono, perhatian kecil seperti ini terasa sangat besar artinya.

Novel ini menegaskan bahwa pelayanan Samsat Polres Sragen layak mendapatkan apresiasi tinggi karena mampu memberikan pelayanan publik yang cepat, ramah, dan sangat membantu masyarakat.

Melalui kisah Rico yang datang untuk membayar pajak motor kakeknya yang mati sejak 2018—dan seharusnya diproses di Karanganyar—pembaca diperlihatkan bagaimana petugas Samsat, khususnya Didik Purwanto, memberikan solusi humanis dengan menawarkan bantuan penuh tanpa mempersulit.

Kesimpulan Utama

Novel ini menyampaikan pesan kuat bahwa Samsat Polres Sragen telah berhasil memberi teladan pelayanan publik yang humanis, cepat, dan peduli. Sikap para petugas menunjukkan bahwa pelayanan yang baik tidak hanya soal aturan administratif, tetapi juga soal empati kepada masyarakat.

Cerita ini sekaligus mengajak pembaca untuk melihat bahwa pelayanan publik yang tulus akan meninggalkan kesan mendalam dan menguatkan kepercayaan masyarakat terhadap instansi pemerintah.

Artikel ini ditulis oleh Redaksi Berita Istana Negara, Minggu 30 November 2025.

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *