Sukoharjo – Sukoharjo tak pernah berisik dalam caranya bercerita. Ia hadir pelan, lewat sawah yang menghampar hijau di pagi hari, lewat jalan desa yang menghubungkan rumah-rumah sederhana dengan mimpi warganya. Di kabupaten yang tumbuh di antara tradisi dan denyut zaman ini, kehidupan berjalan apa adanya—hangat, bersahaja, namun menyimpan daya juang yang kuat. Dari Gentan hingga Bulu, dari pasar-pasar rakyat hingga sudut kampung yang setia dengan poskamling malam hari, Sukoharjo adalah kisah tentang kebersamaan, keteguhan nilai, dan orang-orang biasa yang memilih untuk bertanggung jawab atas lingkungannya.
Di Dusun Keringan, Desa Gentan, Kecamatan Bulu, Kabupaten Sukoharjo, nama Giman lebih dikenal dengan sapaan akrab Kang Bargast. Ia lahir pada 16 April 1983, tumbuh dari denyut kehidupan desa yang mengajarkannya arti kebersamaan, ketertiban, dan tanggung jawab. Dari rumah sederhana di RT 001/RW 008 Gentan, perjalanan hidupnya mengalir tenang namun pasti—menjadi figur yang dipercaya warga, sekaligus pemimpin usaha yang menjunjung nilai-nilai luhur.
Hari ini, Kang Bargast mengemban dua peran penting: Ketua RT di lingkungan tempat tinggalnya dan Direktur Utama PT Kastara Garuda Sakti. Kantor perusahaannya beralamat di Jl. Joko Tingkir No. 19, Pajang, Laweyan, Kota Surakarta—sebuah titik kerja yang merekam komitmennya pada profesionalisme sektor swasta. Di dua ranah yang berbeda itu, ia berdiri pada satu pijakan nilai yang sama: integritas, loyalitas, dan dedikasi yang konsisten.
Prinsip hidupnya tegas namun membumi. Dalam setiap langkah, Kang Bargast berikhtiar mematuhi hukum agama, adat istiadat, dan hukum positif. Bagi dirinya, kepemimpinan bukan sekadar jabatan, melainkan amanah yang harus dipertanggungjawabkan—kepada Tuhan, kepada negara, dan terutama kepada masyarakat.
Selama 10 bulan menjabat sebagai Ketua RT, perubahan terasa nyata. Lingkungan yang ia pimpin menjadi tertib, aman, dan guyub rukun. Pendekatannya persuasif, dialogis, dan berorientasi solusi. Salah satu capaian yang paling dikenang warga adalah keberhasilannya menghidupkan kembali dana kas kampung yang sempat mandek lebih dari enam tahun. Dengan komunikasi yang santun dan keteladanan personal, penagihan dilakukan tanpa gesekan—hingga kas kampung kembali berdenyut demi kepentingan bersama.
Di bidang pelayanan sosial dan pembangunan, peran Kang Bargast kian terasa. Bantuan infrastruktur dan bantuan sosial dari pemerintah—baik provinsi, kabupaten, maupun pemerintahan desa—dapat tersalurkan dengan tepat melalui rekomendasi dan referensi Ketua RT. Ia memastikan proses berjalan akuntabel, menyentuh kebutuhan riil warga, dan bebas dari praktik yang mencederai kepercayaan publik.
Rutinitas poskamling dan gotong royong tetap aktif. Bagi Kang Bargast, keamanan dan kebersihan lingkungan bukan proyek sesaat, melainkan budaya yang harus dirawat. Kehadiran warga dalam kegiatan bersama menjadi bukti bahwa kepemimpinan yang mengayomi akan melahirkan partisipasi yang tulus.
Yang tak kalah penting, ia menjadikan transparansi dan keterbukaan sebagai napas kepemimpinan. Setiap bentuk bantuan dari pemerintah disampaikan secara terbuka kepada seluruh masyarakat, bahkan kerap dibahas melalui undangan resmi di kediaman Ketua RT. Di ruang-ruang dialog itulah kepercayaan tumbuh—tanpa sekat, tanpa prasangka.
Di mata warga, Kang Bargast dikenal memiliki pemahaman hukum dan wawasan intelektual yang baik. Ia berani, bernyali, dan bertanggung jawab, namun tetap rendah hati. Ketegasan berpadu dengan empati, ketelitian bersanding dengan keberanian mengambil keputusan.
Satu hal yang tak pernah terpisahkan dari kisah hidup Kang Bargast adalah asal-usulnya. Ia lahir dan tumbuh dari keluarga sederhana—keluarga yang hidup dalam keterbatasan, namun kaya akan nilai dan keteguhan hati. Keadaan itu tak pernah menjadi alasan untuk menyerah, justru menempa jiwanya menjadi pribadi yang tangguh, berani, dan terus bergerak maju demi menjaga marwah keluarga yang dijunjung tinggi.
Waktu dan pengalaman menjadi guru paling jujur baginya. Dari perjalanan hidup yang panjang dan berliku, namanya perlahan dikenal, bukan karena janji-janji, melainkan karena keteladanan. Hingga pada suatu titik, suara masyarakat Desa Gentan bergema dalam satu harapan yang sama. Ia diminta, didorong, dan diajukan oleh warganya sendiri untuk bersedia mengabdikan diri—membuka jalan perubahan, serta memerdekakan masyarakat Desa Gentan secara utuh, lahir dan batin.
Kisah Kang Bargast adalah potret kepemimpinan dari akar rumput—tentang bagaimana nilai, konsistensi, dan keberpihakan pada kepentingan bersama dapat mengubah lingkungan. Dari gang kecil Dusun Keringan hingga ruang kerja di Laweyan, jejaknya menegaskan satu pesan: kepemimpinan yang bersih dan terbuka selalu menemukan jalannya menuju kepercayaan publik.(iTO)