SRAGEN, — Kreativitas pemuda dan pembangunan infrastruktur berjalan beriringan di Dukuh Celep RT 23, Desa Celep, Kecamatan Kedawung, Kabupaten Sragen. Kamis (17/9/2026)
Di tengah pembangunan Jembatan Bendronggeni yang menjadi akses utama masyarakat, tiga pemuda setempat berinisiatif membuat jembatan alternatif berbahan bambu atau yang oleh warga setempat dikenal sebagai Jembatan Sesek.
Jembatan darurat sepanjang sekitar 25 meter tersebut digagas oleh Mr. Teplok (43) bersama dua rekannya, Epin dan Tedik. Inisiatif itu muncul setelah mereka melihat aktivitas warga, termasuk anak-anak sekolah, pekerja, dan pedagang, membutuhkan akses alternatif selama jembatan utama dalam proses pembangunan.
Kepada Tim MATA JATENG, Mr. Teplok mengatakan pembangunan Jembatan Sesek tersebut merupakan hasil inisiatif dan swadaya tiga pemuda Desa Celep.
“Ini benar-benar riil asli ide kreatif pemuda Desa Celep. Hanya dirancang tiga personel, saya, Epin, dan Tedik,” ujar Mr. Teplok.
Dibangun Swadaya dan Bisa Digunakan Gratis
Menurut Mr. Teplok, Jembatan Sesek tersebut telah digunakan warga selama kurang lebih dua bulan. Pembangunannya dilakukan secara swadaya menggunakan dana pribadi dengan biaya kurang dari Rp2 juta.
Sekitar 100 batang bambu digunakan untuk membuat jembatan alternatif tersebut. Untuk membantu aktivitas warga pada malam hari, jembatan juga dilengkapi lampu penerangan.
Ia menegaskan, akses tersebut dapat digunakan masyarakat tanpa pungutan biaya. Di lokasi hanya tersedia kotak bertuliskan “DONASI SEIKHLASNYA PERBAIKAN SESEK” yang diperuntukkan bagi kebutuhan perawatan jembatan.
“Niatnya benar tulus hanya ingin bisa membantu aktivitas perjalanan warga Desa Celep. Tanpa ada suatu pungutan biaya apapun,” tegasnya.
Tokoh Masyarakat Apresiasi Pengerjaan Jembatan Bendronggeni
Sementara itu, pembangunan Jembatan Bendronggeni terus berlangsung. Salah satu tokoh masyarakat Desa Celep, Bang Warsito, Dirut PT Berita Istana Negara (BIN) dan Sekaligus Pemilik Akun TIK TOK MATA JATENG yang tinggal tidak jauh dari lokasi proyek, mengaku ikut memantau perkembangan pengerjaan sebagai bentuk perhatian terhadap pembangunan infrastruktur di wilayahnya.
Kepada Tim MATA JATENG, Bang Warsito mengatakan pembangunan jembatan tersebut telah berlangsung sekitar dua bulan. Ia menyampaikan apresiasi terhadap proses pengerjaan yang menurut pengamatannya berjalan dengan baik.
“Selama kurang lebih dua bulan ini saya selalu ikut memantau. Saya sangat salut dan mengapresiasi kepada pihak CV Surya Putra Kontraktor. Mereka mengerjakan sesuai spek teknik, tingkat ketelitian, kecepatan dan kerja tim yang solid,” ujar Warsito.
Menurut Bang Warsito, dirinya juga beberapa kali mengamati material yang digunakan dalam proses pembangunan.
“Dari segi material semua bahan-bahannya sangat bagus dan berkualitas, seperti besi, batu hitam, pasir dan semen. Semua ditakar dengan teliti dan semua pekerja konsekuen dalam menjalankan anggaran uang rakyat ini,” jelasnya.
Bang Warsito berharap pembangunan Jembatan Bendronggeni dapat menghasilkan infrastruktur yang berkualitas dan memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat Desa Celep dan sekitarnya.
“Selaku tokoh masyarakat dan mewakili masyarakat sekitar, saya sangat berterima kasih kepada CV Surya Putra Kontraktor berkat kerja sama yang baik bersama masyarakat sekitar,” pungkasnya.
Nilai Kontrak Jembatan Bendronggeni Rp3,87 Miliar
Berdasarkan papan informasi proyek yang berada di lokasi, pembangunan Jembatan Bendronggeni merupakan program Pemerintah Kabupaten Sragen melalui Dinas Pekerjaan Umum.
Proyek tersebut tercantum dalam Program Penyelenggaraan Jalan, dengan paket pekerjaan Pembangunan Jembatan Bendronggeni. Nilai kontraknya tercatat sebesar Rp3.870.000.000, bersumber dari Dana Alokasi Umum (DAU) Tahun Anggaran 2026.
Adapun volume pekerjaan tercantum dengan panjang jembatan 30 meter dan lebar 5,50 meter, dengan waktu pelaksanaan 160 hari. Pelaksana pekerjaan adalah CV Surya Putra Kontraktor.
Pihak kontraktor, saat ditemui Tim MATA JATENG, turut menyampaikan apresiasi atas partisipasi serta kerja sama masyarakat dan para pemuda Desa Celep selama proses pembangunan berlangsung.
Kontraktor juga memohon dukungan dan doa masyarakat agar seluruh tahapan pekerjaan dapat berjalan lancar, selesai sesuai jadwal, serta segera dapat dimanfaatkan oleh masyarakat.
Keberadaan Jembatan Sesek yang dibangun secara swadaya oleh tiga pemuda di tengah berlangsungnya pembangunan Jembatan Bendronggeni menjadi gambaran adanya inisiatif masyarakat dalam menjaga kelancaran aktivitas warga.
Di sisi lain, pembangunan jembatan utama menjadi bagian dari upaya penyediaan infrastruktur yang diharapkan dapat memberikan akses yang lebih baik bagi masyarakat Desa Celep dan sekitarnya.(Sri)

