Mengenal Lebih Dekat Sosok Kapolres Sragen: Perempuan Lembut Bertangan Tegas

Berita Istana
3 Min Read

Sragen – Di setiap langkahnya, Kapolres Sragen AKBP Dewiana Syamsu Indyasari tak hanya membawa tugas dan tanggung jawab sebagai seorang pemimpin, tetapi juga menghadirkan kehangatan yang menembus batas seragam. Bagi masyarakat Sragen, ia bukan hanya sosok aparat penegak hukum — tetapi juga teman, ibu, dan penolong bagi mereka yang sedang terpuruk.

Dewiana percaya, menjadi polisi bukan hanya soal hukum, tapi tentang perasaan manusia. Tentang bagaimana menghadirkan rasa aman, bukan sekadar dengan senjata dan kekuasaan, tapi dengan hati yang memahami penderitaan sesama.
“Kalau kita tidak bisa menghapus air mata orang lain, setidaknya kita jangan menjadi alasan air mata itu jatuh,” ucapnya suatu kali dalam perbincangan hangat bersama para anggota Bhayangkari.

Kedekatannya dengan masyarakat membuat namanya cepat melekat di hati rakyat Sragen. Banyak warga menyebutnya sebagai “Kapolres yang tak berjarak” — karena setiap kali ada warga kesulitan, ia hadir, mendengar, dan mencari jalan keluar.

Di kantor yang menjadi saksi setiap keputusan besar, Dewiana menanamkan budaya kerja yang manusiawi. Ia mengingatkan jajarannya untuk selalu turun ke bawah, menyapa masyarakat dengan senyum, dan menegakkan hukum dengan adil tanpa pandang bulu.

Baginya, kekuatan seorang pemimpin bukan diukur dari seberapa tinggi jabatan yang disandang, melainkan dari seberapa banyak kebaikan yang mampu ia tularkan.

Di tanah yang pernah bersaksi pada langkah-langkah berat, kini kembali lahir cahaya dari sosok lembut namun tegas. Setelah tiga puluh tujuh tongkat komando berpindah tangan, Sragen kembali dipimpin oleh seorang perempuan — AKBP Dewiana Syamsu Indyasari. Namanya hadir membawa harapan baru, mengingatkan masyarakat pada AKBP Sri Handayani, Kapolres perempuan pertama yang pernah menoreh sejarah lebih dari satu dasawarsa lalu.

Bagi warga Sragen, Dewiana bukan sekadar pemimpin berseragam. Ia dikenal sebagai figur yang dekat dengan rakyat kecil, sering turun langsung membantu warga yang kesulitan, dan menaruh perhatian besar pada mereka yang membutuhkan uluran tangan. Dari pemuda hingga tokoh masyarakat, banyak yang mengapresiasi sosoknya sebagai polisi yang berhati nurani, pemimpin yang menyejukkan.

Di balik senyum teduhnya, tersimpan keberanian yang tak gentar menghadapi tantangan. Dalam langkahnya, keadilan bukan sekadar kata, melainkan napas yang hidup di tengah rakyat yang ia jaga. Ia berjalan dengan keyakinan bahwa ketegasan dan kasih sayang bisa berjalan berdampingan — bahwa seorang ibu pun bisa menegakkan hukum tanpa kehilangan sisi kemanusiaannya.

Kini, Sragen kembali menatap masa depan dengan harapan baru. Dalam doa yang berbisik di malam sunyi, masyarakat menitipkan harapan: semoga tongkat komando di tangan AKBP Dewiana bukan hanya simbol kuasa, melainkan lentera bagi mereka yang haus akan keadilan.

Selamat datang, Kapolres kami — perempuan kedua yang menoreh sejarah, menulis bab baru dalam perjalanan panjang Sragen yang penuh makna.(iTO)

@TikTok Mata Jateng 

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *