SRAGEN – Desa Donoyudan, Kalijambe, Sragen, pagi itu masih diselimuti embun ketika Poniman, kepala desa yang dikenal tenang dan rendah hati, memulai langkahnya menyusuri jalan kampung. Dengan sepeda motor tuanya—alat transportasi yang setia menemaninya sejak sebelum menjabat—Poniman berhenti di setiap sudut desa, menyapa warga yang sudah lebih dulu mengenalnya bukan sebagai penguasa, tetapi sebagai mas Poniman, tetangga yang tak pernah menolak ketika dimintai bantuan.
Dalam hiruk-pikuk isu dan kegaduhan yang belakangan menyelimuti desa, sosok Poniman justru hadir sebagai peneduh. Ia tak sekali pun meninggikan suara; lebih memilih mendengarkan keluhan ibu-ibu tentang akses jalan pertanian, memeriksa jembatan bambu yang mulai lapuk, hingga memastikan transportasi anak sekolah tetap lancar. “Kalau jalan bagus, warga senang, ekonomi hidup,” begitu katanya setiap kali keliling, menepuk-nepuk jok motornya yang dipenuhi debu tanah merah.
Bagi warga Donoyudan, Poniman bukan hanya pejabat desa. Ia adalah mata, telinga, dan kaki bagi masyarakat—melangkah sebelum diminta, hadir sebelum dipanggil. Di tengah desas-desus yang tak pernah ia balas dengan amarah, Poniman tetap tegak sebagai pemimpin yang memilih bekerja dalam diam, membiarkan hasil dan kepercayaan warga berbicara lebih lantang dari fitnah mana pun.
Dalam beberapa pekan terakhir, Desa Donoyudan, Kecamatan Kalijambe, Kabupaten Sragen, menjadi pusat perhatian publik. Beredar berbagai tuduhan dan isu liar yang menyeret nama Kepala Desa Donoyudan, Poniman. Fitnah yang belum terbukti itu menyebar cepat, menimbulkan tanda tanya besar di tengah masyarakat.
Menyikapi polemik tersebut, Tim Investigasi Berita Istana bersama Tiktok Mata Jateng turun langsung ke lapangan untuk menggali fakta dan mendengar suara warga. Hasil penelusuran memperlihatkan potret yang jauh berbeda dari isu yang beredar.
Sosok Poniman di Mata Warga: Dekat, Merakyat, dan Dicintai . Berbeda dari narasi negatif yang beredar, sejumlah warga justru menyampaikan gambaran positif tentang Kades Poniman.
Joko, salah satu warga Donoyudan, menegaskan bahwa Poniman dikenal sebagai pemimpin yang dekat dengan masyarakat.
“Pak Poniman itu orangnya dekat dengan warga. Kegiatan-kegiatan di desa selalu beliau dampingi. Alhamdulillah, acara Kajian Donoyudan Mengaji kemarin juga berjalan lancar,” ujar Joko pada Minggu (23/11) pukul 13.06 saat ditemui di sebuah warung kopi.
Joko menegaskan bahwa Poniman kerap hadir dalam berbagai kegiatan keagamaan dan sosial masyarakat, termasuk acara Kajian Ahad Pagi Donoyudan Mengaji, yang videonya kini ramai dijadikan after movie oleh para pemuda desa.
Dituduh Tanpa Bukti, Poniman Memilih Diam; Warga lain yang enggan disebutkan namanya juga mengungkapkan bahwa Poniman sering menjadi sasaran fitnah dari segelintir pihak yang diduga memiliki dendam pribadi.
“Pak Poniman orangnya baik, tapi sering difitnah. Beliau tidak pernah membalas. Kalau menurut saya, ini ulah orang-orang yang sakit hati saja, cuma segelintir orang,” ungkap seorang warga sambil meminum secangkir kopi.
Menurut warga, sebagian besar masyarakat Donoyudan sebenarnya mengetahui arah dan asal suara isu tersebut, namun Poniman memilih tidak membesar-besarkan.
Hubungan Baik dengan Ketua DPRD, Aspirasi Warga Selalu Tersampaikan; Menurut penuturan Joko, Poniman dikenal sebagai pemimpin yang komunikatif. Setiap kali menerima aspirasi dari Suparno, Ketua DPRD Kabupaten Sragen, Poniman selalu menindaklanjuti dengan jelas dan transparan.
“Kalau dapat aspirasi dari Pak Suparno, Pak Kades selalu sampaikan apa adanya, tanpa dipotong sedikit pun. Apalagi desa Donoyudan ini sering mendapat perhatian dari beliau,” kata Joko.
Pembangunan dan Aktivitas Sosial: Bukti Nyata di Lapangan. Meski diterpa isu, berbagai pembangunan di Donoyudan terus berjalan. Gedung Serbaguna Donoyudan, yang akan segera diresmikan, sudah mulai dimanfaatkan warga untuk kegiatan masyarakat.
Poniman juga dikenal aktif terjun langsung membantu pekerjaan fisik desa. Warga menyebut, meskipun menjabat sebagai kepala desa, Poniman tidak segan: membantu pembangunan fasilitas umum, ikut mengecat dinding kantor desa, membersihkan masjid, dan hadir dalam setiap kegiatan sosial warga.
Sikap sederhana dan kerjanya yang nyata menjadi alasan mengapa mayoritas warga justru semakin simpatik.
Kesimpulan: Fitnah Tak Menghapus Kerja Nyata ; Penelusuran tim investigasi menunjukkan bahwa isu yang beredar tidak sejalan dengan fakta lapangan. Di balik fitnah yang mengguncang Donoyudan, justru terlihat sosok kepala desa yang merakyat, bekerja, dan dicintai warganya.
Polemik ini masih menyisakan misteri: siapa sebenarnya dalang di balik fitnah itu?
Mayoritas warga mengaku mengetahui arahnya, namun memilih menahan diri karena menghormati sikap Poniman yang tidak ingin membalas.
Dengan berbagai bukti sosial dan pembangunan yang ada, publik kini menantikan klarifikasi lebih luas agar fitnah tidak lagi menjadi senjata yang merusak kepercayaan masyarakat.(AZ)