Program “Katering Mandiri MBG Jalur Lansia” Bernaung BARNAS Diduga Tipu Ratusan Warga Sragen

Berita Istana
5 Min Read

SRAGEN — Ratusan warga di Kabupaten Sragen dan sekitarnya dibuat geger oleh dugaan penipuan berkedok program katering mandiri jalur lansia yang disebut bernaung di bawah Yayasan BARNAS. Program ini diduga menarik uang administrasi dari para korban dengan iming-iming pekerjaan katering, gaji harian, hingga klaim binaan tokoh nasional. Namun hingga kini, pekerjaan tak kunjung ada dan uang korban belum dikembalikan.

Kasus ini terungkap setelah sejumlah korban memberikan keterangan kepada Media Berita Istana pada Sabtu (29/11/2025).

Kronologi: Rekrut 32 Orang, Diminta Setor Rp150 Ribu per Kepala,menurut keterangan Mariyo, Ketua RT di Dukuh Betari, Desa Jenar, Kecamatan Jenar, Sragen, ia awalnya ditawari pekerjaan katering mandiri oleh Mi dan DPA  yang dikenal sebagai pengurus lapangan program tersebut.

“Saya diminta merekrut orang dengan syarat administrasi Rp150 ribu per orang. Saya dapat 32 anggota dari Desa Mlale,” ungkapnya.

Uang administrasi itu, kata Mariyo, dikumpulkan secara tunai maupun transfer, lalu diperintahkan untuk disetorkan kepada DPA dan DP selaku pihak yang disebut pencari mitra.

“Semuanya saya transfer ke dua rekening tersebut sesuai instruksi,” tambahnya.

Versi Admin Sragen: Diminta Rp150 Ribu per Orang untuk 28 Mitra,dugaan penipuan ini juga disampaikan oleh Ninis, warga Babadan, Bentak, Sidoharjo, Sragen, yang bersama suaminya bertindak sebagai admin wilayah.

Ia mengaku ditelepon langsung oleh  DPA untuk mencari mitra katering. Setiap mitra disebut harus menyetor administrasi Rp150 ribu.

“Total ada 28 orang. Semua bayar administrasi sesuai permintaan Dwi,” ujar Ninis.

Para admin dan korban dijanjikan sistem kerja katering yang dilakukan dari rumah masing-masing, dengan gaji Rp150 ribu per hari untuk bagian memasak, dan Rp100 ribu untuk bagian packing.

Iming-Iming Binaan Tokoh Nasional Bikin Korban Percaya, Para korban mengaku semakin percaya setelah Dwi dan seorang koordinator wilayah bernama Eri P menyampaikan bahwa program katering ini berada di bawah binaan tokoh nasional seperti Jokowi, Gibran, dan Kaesang.

Klaim tersebut membuat warga yakin program ini resmi dan memiliki dukungan negara.

Namun setelah ditelusuri para korban, tidak ada bukti bahwa program itu benar-benar terkait dengan pihak yang dicatut namanya.

Kerugian yang dialami warga ditaksir mencapai ratusan juta rupiah.

Para korban yang berkumpul di rumah Purwanti, warga Dukuh Geger Sapi, Desa Glongong, Kecamatan Gondang, Sragen menyampaikan keluhan mereka kepada awak media.

“Kami hanya minta kejelasan. Kalau memang katering itu ada, segera turunkan. Tapi kalau tidak ada, tolong uang kami dikembalikan,” ujar salah satu korban.

Sejak Februari 2025, para pelaku selalu beralasan bahwa food tray untuk kegiatan katering masih dalam perjalanan menggunakan kontainer. Namun hingga November 2025, tidak ada satu pun kegiatan yang terealisasi.

Setiap kali para korban mencoba menagih janji maupun meminta kejelasan, para terduga pelaku justru memilih menghindar.
Alih-alih memberikan jawaban yang transparan, mereka kerap memutus komunikasi, tidak merespons pesan maupun panggilan, serta menghindari pertemuan tatap muka.
Sikap ini semakin menguatkan dugaan bahwa program yang dijalankan bukanlah kegiatan resmi, melainkan skema yang merugikan masyarakat.

Sementara itu, Warsito, selaku Direktur Utama PT Berita Istana Negara, menegaskan bahwa pihaknya sangat menyayangkan tindakan para terduga pelaku yang diduga memanfaatkan nama program Katering Mandiri Jalur Lansia MBG untuk menarik dana dari masyarakat.

“Kami meminta para pelaku segera mengembalikan seluruh uang para korban. Program tersebut tidak ada, tidak resmi, dan hanya dijadikan alat untuk membohongi masyarakat. Jangan lagi memberi janji palsu atau menghilang saat korban menuntut kejelasan,” tegas Warsito.

Warsito juga menyoroti kerugian nyata yang dialami warga, termasuk seorang admin asal Sidoarjo yang bahkan telah menyiapkan dapur untuk kebutuhan MBG dengan menata bata merah sesuai arahan pelaku. Bukan hanya waktu dan tenaga, korban tersebut juga menghabiskan uang sekitar Rp500 ribu untuk proses pembangunan dapur tersebut.

“Ini menunjukkan bahwa masyarakat benar-benar percaya dengan program itu. Mereka sudah mengeluarkan biaya, sudah bekerja, bahkan menata dapur khusus. Kerugian seperti ini tidak bisa diabaikan. Para pelaku wajib bertanggung jawab dan mengembalikan seluruh dana yang sudah dihimpun,” lanjut Warsito.

Lebih jauh, Warsito mengungkapkan bahwa jumlah korban di Sragen tersebar luas, mencakup 20 kecamatan, sehingga total kerugian ditaksir mencapai ratusan juta rupiah.

“Dengan sebaran korban yang begitu luas hingga mencakup 20 kecamatan di Sragen, ini bukan kasus kecil. Ini sudah masuk kategori penipuan terstruktur. Para pelaku wajib bertanggung jawab dan segera mengembalikan seluruh dana yang telah dihimpun dari masyarakat,” tegasnya lagi.

Ia menegaskan bahwa pihaknya akan tetap mengawal kasus ini dan mendorong aparat berwenang segera menindak tegas pihak-pihak yang terlibat.(iTO)

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *