Minggu, 4 Okt 2026
BERITA ISTANA
  • Berita Istana
  • TNI & POLRI
  • Budaya
  • Daerah
  • Pendidikan
  • Sport
  • E-Catalogue
  • PT. BERITA ISTANA NEGARA
    • Redaksi
    • Tentang Kami
    • Pedoman
    • Kontak kami
    • Karir
My News
  • BERITA ISTANA SRAGEN
  • BERITA ISTANA JAKARTA
  • BERITA ISTANA JATENG
  • PPWI JATENG
  • BERITA ISTANA PASURUAN
  • BERITA ISTANA JATIM
  • BERITA ISTANA KALBAR
  • BERITA ISTANA RIAU
  • BERITA ISTANA GROBOGAN
  • PPWI PUSAT
BERITA ISTANABERITA ISTANA
Font ResizerAa
  • Berita Istana
  • Budaya
  • Daerah
  • Pendidikan
  • Sport
  • TNI & POLRI
Search
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Kontak kami
  • Karir
Follow US
Berita IstanaDaerah

NU : TERLALU KERAMAT UNTUK DIKOOPTASI

Berita Istana
Last updated: Rabu, 19 Agustus 2026 09:47 9:47:04 am
By Berita Istana
Share
6 Min Read
SHARE

Oleh : Ferial Farkhan IA

Jawa Tengah – Ada peribahasa lama di kalangan nahdliyin: NU itu ibarat lautan, gampang dimasuki tapi susah didasari. Banyak orang yang menganalisa NU hanya dari luar saja, namun jarang yang bisa memahaminya secara mendalam.

Ada hal menarik dari cerita Gus Yusuf Chudlori disebuah acara diskusi, ketika ada seorang redaktur media ternama di Indonesia bertanya kepada beliau apakah pencalonan Gus Yusuf sebagai Ketum PBNU adalah siasat Cak Imin dan PKB untuk “mengkooptasi” NU, jawaban Gus Yusuf terasa seperti tamparan halus yang penuh senyum: “Anda belum memahami NU, NU terlalu besar untuk di Kooptasi satu Partai, negara saja tak sanggup menguasai NU, apalagi cuma partai. Kalimat itu bukan pembelaan diri, melainkan pengingat sejarah bahwa NU lahir jauh sebelum republik ini berdiri, dan akan tetap berdiri meski republik berganti rezim seratus kali.

Yang menarik, tuduhan “kooptasi” ini justru lucu kalau ditelisik lebih jauh. Sepanjang sejarah, setiap kali ada pihak entah partai, entah kekuasaan mencoba menjadikan NU sebagai kendaraan politik, hasilnya selalu sama, yaitu KEKECEWAAN. Yang ada malah NU bergolak, retak sejenak, lalu menyembur balik seperti mata air yang disumbat batu. Kekuasaan boleh punya banyak sumber daya dan aparat sampai ke pelosok desa, tapi menghadapi jutaan nahdliyin yang loyalitasnya berakar pada kiai dan pesantren, bukan pada jabatan, kekuasaan itu tiba-tiba jadi kerdil.

Seharusnya kita bisa belajar dari sejarah NU, yang pertama ketika Muktamar NU di Cipasung pada tahun 1994, dimana instrumen negara turun langsung untuk menguasai NU dengan usaha menyingkirkan Gusdur. Hasilnya apa ? Gusdur terpilih lagi untuk ke-3 kalinya dan Abu Hasam yang saat itu adalah calon dari Istana “nyungsep”.

Muktamar ke-34 di Lampung tahun 2022 pun bisa kita jadikan pelajaran juga, dimana saat itu menjadi arena Muktamar yang paling “Bar-Bar”. Alat negara dijadikan mesin pemenangan, duit dari “Bohir” mengalir deras mengguyur para Muktamirin. Hasilnya apa ? Ya memang menang sih, tapi ujungnya “ruwet” dan Konflik internal meledak tak terbendung. Bohir yg dulu niat Nyapres juga ujungnya “GATOT” atau Gagal Total. Malah sekarang mulai tersisih dan lebih milih asik ngurusin Bola.

Gawat! Internet Lokal di Desa Jatisari Kebumen Diduga Tak Berizin, Warga Minta APH Bertindak
Kementerian PU Bangun 245 Unit Huntara di Kecamatan Batangtoru dengan Fasilitas Lengkap Layak Huni
16 Bulan Tanpa Kejelasan, Warga Tagih SP2HP Kasus Dana Desa yang Dilimpahkan Kajati Riau ke Kajri Rohil
Rokok GA Black Ilegal, Sebuah Gudang di Delingan Karanganyar Jadi Tempat Penyimpanan

Dua contoh diatas adalah pelajaran berharga bagi semua Nahdliyin. Banyak yang mencatat ketika kontestasi diwarnai aroma kepentingan yang lebih besar dari sekadar perkhidmatan, cawe-cawe dan dukungan dari lingkaran kekuasaan terhadap kandidat tertentu, disusul manuver-manuver yang bagi sebagian nahdliyin terasa dipaksakan demi kalkulasi Politik. Hasilnya bisa dilihat sendiri hari ini: PBNU yang terpilih justru terus dirundung friksi internal, saling sindir antar elite, dan energi organisasi yang harusnya untuk umat malah tersedot untuk meredam konflik. Ironisnya, siapa pun dalang di baliknya, yang rugi tetap NU, sementara sang dalang sudah pindah ke panggung lain.

Di sinilah letak kearifan sindiran Gus Yusuf. Ia seolah berkata: silakan saja mencoba, tapi bersiaplah kecewa. NU bukan partai yang bisa ditata dari satu meja kekuasaan, karena struktur riilnya bukan sekelompok elite di Jakarta, melainkan di ranting-ranting dan majelis2 yang jauh dari radar Istana. Setiap kali ada pihak yang menghitung NU sebagai “aset elektoral” yang bisa diaktifkan lewat titipan ketua umum, mereka lupa bahwa nahdliyin sejak dulu punya kemampuan membedakan mana kiai yang berkhidmat dan mana yang jadi kepanjangan tangan kekuasaan.

Maka menjelang Muktamar ke-35 di Tambakberas, sindiran itu sebaiknya dibaca sebagai peringatan dini, bukan basa-basi belaka. Jombang adalah tanah kelahiran NU, tempat Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari dan para Muasis NU lainnya menabur benih jam’iyah ini dari seabad lalu. Di atas tanah itulah terbaring jasad para pejuang NU.

Saat ini sudah beredar isu2 bahwa sudah ada Caketum yang dibackingi oleh Istana. Terlepas benar atau tidak isu itu, jangan sampai hajatan di tanah makam para Muasis ini kembali diwarnai bisik-bisik lobi kekuasaan, bagi2 upeti untuk jual beli dukungan, titipan nama, atau tekanan halus dari lingkaran Istana demi kepentingan konstelasi 2029, maka preseden sebelumnya akan terulang: bukan kemenangan bagi siapa pun, melainkan luka baru bagi Jam’iyah yang seharusnya dijaga dengan mulia.

Sebab pada akhirnya, kekuasaan itu sementara, sementara NU selalu ada di tengah Jamaahnya. Presiden datang dan pergi, partai naik dan tenggelam, tapi jam’iyah ini tetap berdiri menjaga Akidah di pelosok2 desa. Hal itu terjadi Karena NU akarnya bukan di kekuasaan, melainkan di hati jutaan santri dan kiai yang setiap hari menjaga akidah Aswaja. Siasat sehebat apa pun akan mentok di depan sumur yang sama: NU terlalu besar, dan kalau boleh sedikit dramatis — terlalu keramat untuk dijadikan mainan politik lima tahunan.

Maka dari itu, biarlah Muktamar di Tambakberas Jombang nanti menjadi ajang nahdliyin untuk melahirkan ide gagasan keumatan dan memilih pemimpinnya sendiri, dengan logika pesantren dan Jam’iyah, bukan logika istana. Karena kalau sejarah mengajarkan sesuatu, ia mengajarkan ini: setiap upaya menjinakkan NU dari luar selalu berakhir dengan NU yang tetap berdiri, dan si penjinak yang justru terjungkal oleh ambisinya sendiri.

Wallahu a’lam bishawaf.

Jakarta, 17 Agustus 2026

#FFIA

#GusYusuf #NahdlatulUlama #Muktamar35NU #GYNU

TAGGED:BERITA ISTANA JATENG
Share This Article
Facebook Pinterest Whatsapp Whatsapp Telegram Email Copy Link Print
What do you think?
Love0
Sad0
Happy0
Sleepy0
Angry0
Dead0
Wink0
Cry0
Previous Article Ketika Pasar Bergejolak: Membaca Pola Emas dan IHSG dari Tiga Krisis Besar
Next Article Menyiapkan Kuota e-Meterai Perusahaan Sebelum Musim Kontrak Menumpuk
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru
Tingkatkan Pemahaman Ibadah, BRI Region 6 Bahas Sholat Qashar dalam Pengajian Jumat Rutin
Semarak BRILiaN Culture Festival, Pekerja BRI Region 6 Ikuti Games Perkuat Teamwork
Berita Istana
BRI BO Tanjung Priok Gelar BRILiaN Culture Festival, Perkuat Implementasi Budaya Kerja
Berita Istana
Semangat BRILiaN di Pangalengan, BO Kemayoran Tumbuhkan Kebersamaan dan Budaya Kerja
Populer
Polemik Tambang Ilegal dan Sengketa Hak Waris di Cepogo Boyolali, Diduga Libatkan Oknum DPRD Fraksi Golkar
Berita Istana PT. BERITA ISTANA NEGARA
OTT Polres Grobogan: Dua Oknum Mengaku Wartawan Peras Perangkat Desa, Satu Ditangkap
Berita Istana Budaya
Anak SD di Sine Sragen Menjadi Korban Pemerkosaan, Polres Belum Ambil Tindakan
Berita Istana TNI & POLRI
Warga Desa Sigit Tangen Dihebohkan Harga Pupuk Subsidi Rp160 Ribu, Kadus dan Kades Terlibat Diduga Persulit Penyaluran
Berita Istana
BERITA ISTANA

Dikelola oleh:

BIRO PERS, MEDIA, DAN INFORMASI SEKRETARIAT BERITA ISTANA
Rejosari RT 003/00, Gilirejo Baru, Miri, Sragen, Jawa Tengah, Indonesia Kode Pos 57276

Email: ptberitaistananegara@gmail.com redaksiistananegara@gmail.com
Telepon: +62 852-5751-5757

Youtube X-twitter Whatsapp Tiktok Tiktok Tiktok

About Company

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak kami
  • Pedoman
  • Karir
©2018 Biro Pers, Media, dan Informasi Sekretariat Berita Istana. Design by ADJDEV
Welcome
Username or Email Address
Password

Lost your password?