SRAGEN – Pagi itu, Jumat 9 Januari, suasana di PLN Persero ULP Sragen tampak seperti biasa. Aktivitas pelayanan berjalan tertib, antrean pelanggan silih berganti, dan petugas melayani dengan senyum yang tak pernah lepas. Di antara mereka, hadir seorang pelanggan bernama Parman, warga Krapyak, Sragen, dengan satu tujuan penting: menambah daya listrik usahanya.
Parman datang bukan tanpa alasan. MBG miliknya tengah berkembang dan membutuhkan suplai listrik yang lebih besar. Daya lama 900 VA sudah tak lagi mencukupi. Dengan penuh harap, ia mengajukan penambahan daya menjadi 7.700 VA, sebuah langkah besar bagi kelangsungan usahanya.
Di luar dugaan, proses yang ia bayangkan rumit justru terasa ringan. Sejak awal kedatangannya, Parman merasakan pelayanan yang cepat, jelas, dan profesional. Lebih dari itu, ia juga memperoleh diskon 50 persen, sebuah kebijakan yang sangat membantu dan meringankan beban biaya.
Di balik kelancaran pelayanan tersebut, terdapat peran penting Ardi Selalu, selaku manajer PLN ULP Sragen. Sosok Ardi dikenal konsisten menjaga kualitas pelayanan, memastikan setiap pelanggan merasa dihargai dan dilayani dengan baik tanpa pandang bulu. Baginya, listrik bukan sekadar energi, tetapi penopang kehidupan dan ekonomi masyarakat.
Tak kalah penting adalah peran Nina, petugas customer service yang berada di garis depan pelayanan. Dengan sikap ramah dan penuh kesabaran, Nina melayani Parman dari awal hingga akhir proses.
Bahkan ketika suara Parman terdengar keras saat menelpon temannya—cukup mengganggu konsentrasi di ruang layanan—Nina tetap tersenyum, tenang, dan profesional, seolah tak terganggu sedikit pun.
Senyum itu bukan basa-basi, melainkan cerminan budaya pelayanan yang telah tertanam. Sebuah sikap yang membuat pelanggan merasa dihormati, bukan sekadar dilayani.
Pengalaman Parman menjadi bukti nyata bahwa PLN Persero ULP Sragen terus berupaya menghadirkan pelayanan publik yang humanis, cepat, dan berpihak pada kebutuhan masyarakat. Di tengah tuntutan zaman dan meningkatnya kebutuhan energi, pelayanan yang baik tetap menjadi cahaya utama—seperti listrik yang mereka salurkan, menerangi kehidupan banyak orang.(iTO)