Takdir Terbaikku: Kisah Di Balik Jeruji Rutan Kelas I Surakarta

Berita Istana
5 Min Read

Surakarta – Rutan Kelas I Surakarta menyambutku dengan dinginnya besi dan bau lembab yang menusuk hidung. Pintu besar itu menutup di belakangku dengan suara hentakan keras, seperti garis tegas yang memisahkan masa lalu dan masa depan. Di sinilah aku harus belajar bertahan.

Setiap malam, aku menatap langit dari balik jeruji, mencari bintang meski tak satu pun terlihat.
Aku bertanya kepada Tuhan,
“Jika memang hidup ini ujian, kapan aku bisa lulus?”

Di tempat ini, aku menemukan banyak wajah—wajah yang dipenuhi penyesalan, amarah, kehilangan, dan harapan yang hampir padam. Ada yang berbuat salah, ada yang sengaja, ada yang terjebak keadaan, dan ada pula yang seperti aku—hanya korban dari keadaan yang tak mampu kujelaskan.

Namun waktu mengajariku sesuatu:
Kadang takdir terbaik bukan yang indah, tapi yang membuat kita kuat.

Angin sore berhembus pelan melalui celah-celah besi jendela kecil itu. Di baliknya, langit tampak luas dan bebas—sebuah pemandangan yang setiap hari menjadi pengingat betapa berharganya arti kebebasan. Di ruangan sunyi itu, aku duduk termenung, menatap jauh tanpa benar-benar melihat apa pun, seolah pikiranku tertinggal di masa yang telah hilang.

Untuk teman-teman di luar sana, izinkan aku menyampaikan sesuatu. Dunia ini tak pernah memberi peringatan sebelum menjatuhkan hukuman. Satu langkah keliru, satu keputusan tanpa pertimbangan, bisa mengubah seluruh hidup. Jangan pernah melakukan sesuatu hanya karena ikut-ikutan atau karena terlihat mudah. Terkadang, kata-kata atau tindakan kecil yang kita anggap sepele bisa menjadi badai penghancur di kemudian hari. Hati-hatilah, karena penyesalan selalu datang terlambat.

Namaku Faifi Yanua Risma Aerlangga, usiaku baru 19 tahun. Aku berasal dari sebuah tempat kecil bernama Klaten, tempat yang penuh kenangan dan orang-orang yang kusayang. Namun kini, kehidupanku tidak lagi sama. Aku menjadi warga binaan Rutan Kelas I Surakarta, terperangkap dalam jeruji besi karena kasus UU ITE, setelah mempromosikan situs game online yang ternyata dilarang negara. Sebuah tindakan yang kuanggap remeh, kini menjadi batu besar yang menutup seluruh jalan masa depanku.

Pertama kali kakiku melangkah masuk ke gerbang tinggi rutan ini, hati terasa seperti diremas. Suara pintu besi yang tertutup di belakangku bergema keras, seakan menyatakan bahwa hidupku telah berubah selamanya. Malam-malam pertama di sini adalah yang paling kelam. Aku terbaring dalam gelap, menahan suara tangis yang ingin pecah, merasakan perih yang membakar dada. Rasa bersalah kepada orang tua, rasa malu kepada keluarga, dan rasa takut terhadap masa depan—semuanya menumpuk menjadi beban yang hampir tak sanggup kupikul.

Tapi hidup selalu menyimpan kejutan. Di tempat ini, aku tidak hanya menemukan hukuman, melainkan harapan baru. Aku bertemu orang-orang yang nasibnya tak lebih baik dariku, namun memiliki hati yang tulus dan saling menguatkan. Mereka menjadi keluargaku kini, keluarga yang sama-sama berjuang bangkit dari keterpurukan.

Di rutan ini, aku mengikuti berbagai kegiatan pembinaan. Aku belajar membuat perabotan kayu, belajar menjadi pengrajin yang sabar dan teliti. Aku belajar merajut, menganyam benang-benang halus menjadi dompet dan tas, seolah setiap simpulnya menjahit kembali harapan yang sempat hancur. Aku juga belajar membuat roti, menciptakan aroma hangat yang seakan mengingatkanku pada rumah. Dan yang paling penting, aku mendekatkan diri pada agama, mengikuti pengajian dan pembinaan rohani yang menuntunku menemukan kedamaian.

Seiring waktu, aku mulai percaya bahwa setiap manusia berhak mendapatkan kesempatan kedua. Aku mungkin terjatuh, namun aku tidak akan tinggal di dasar. Di balik jeruji ini, aku menemukan kekuatan untuk bangkit dan memperbaiki diri.

Aku ingin pulang suatu hari nanti—bukan sebagai anak hilang yang membawa malu, tetapi sebagai seseorang yang telah belajar dari kesalahan, yang lebih dewasa, lebih bijak, dan lebih bermanfaat bagi keluargaku serta masyarakat.

Selama napasku masih ada, aku akan terus berjuang. Karena kisahku belum berakhir. Ini bukan tanda titik, tetapi koma. Dan suatu hari, aku akan menuliskan akhir yang berbeda.

Penulis : iTO

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *