Dibalik Megahnya Polres Semarang: Ramahnya Para Anggota, Namun Sempitnya Tempat Parkir

Berita Istana
7 Min Read

Feature – Kamis, 13 November 2025

Semarang – Pagi itu, Kamis 13 November 2025, pukul 07.15 WIB, saya berangkat dari Sragen dengan hati yang tenang. Jalanan masih basah oleh embun, dan di kepalaku hanya ada satu tujuan: Polres Semarang. Sekitar pukul 10.30 WIB, perjalanan panjang itu akhirnya membawa saya tiba di Jalan Dr. Soetomo Nomor 19, Randusari, Semarang Selatan.

Saat mobil melambat di depan pos penjagaan, saya menarik napas dan menyapa dengan sopan,
“Mohon izin, Komandan… selamat pagi. Tempat parkir di mana ya?”
Petugas jaga yang gagah dengan seragam rapi itu tersenyum ramah.
“Selamat pagi, Mas. Mohon maaf, lokasi parkir ada di sebelah sana,” katanya penuh hormat.

Jawaban itu sederhana, namun ada ketulusan yang membuat langkah saya terasa ringan.

Saya kembali ke mobil, berkeliling ke sisi Utara Polres Semarang, dan menemukan dua lokasi parkir kecil. Di sana saya memarkir kendaraan, lalu berjalan kaki menuju kantor polisi yang tampak megah berdiri.

Di pos penjagaan, saya kembali memberi hormat. “Mohon izin, Komandan… perkenalkan, saya Warsito dari Sragen. Ini identitas saya.” Petugas itu menerima dengan sopan. “Baik, Mas. Mau ke mana?” “Ke Reskrim.” “Silakan, Mas.”

Ucapan-ucapan sederhana itu, entah mengapa, seperti hembusan angin sejuk bagi seorang pendatang yang jauh-jauh datang dari kota lain.

Saya kemudian berjalan-jalan mengelilingi kawasan Polres. Bertemu beberapa polisi yang sedang berpatroli; semua menyapa dengan senyum tulus. Bahkan seorang polwan cantik yang tengah melintas pun menyapa dengan lembut.

Di kejauhan terdengar suara palu, mesin, dan tukang yang sedang memperbaiki bangunan. Di tengah riuh pengerjaan itu, suasana tetap terasa hangat.

Dalam hati saya berkata lirih,
“Polres Semarang ini begitu megah… anggotanya ramah dan baik semua. Tapi… kenapa tempat parkirnya begitu sempit ya? Seandainya di atas gedung ini bisa dibangun area parkir… apa tak mungkin?”

Sebuah gumam yang hanya bisa dititipkan pada angin.

Usai berkeliling, saya duduk di kantin kecil di area polres. Tiba-tiba secangkir kopi hitam diletakkan di depan saya oleh seorang ibu paruh baya.
“Kopi ini untuk siapa, Bu?” tanya saya bingung. Ia tersenyum lembut.
“Untuk jenengan, Mas. Tadi dipesankan Pak Polisi.”

Saya tercekat sejenak.
“Saya tidak pesan, Bu…”
“Iya, Mas. Tapi Pak Polisi bilang, tolong antar untuk Mas yang duduk di sana.”

Dalam hati saya kembali berkata,
“Di sini… polisi kok baik-baik semua ya?”
Ada hangat yang sulit diungkapkan, apalagi oleh seseorang yang datang sebagai tamu dari jauh.

Saat secangkir kopi hitam itu masih mengepulkan aroma hangat, langkah tiga orang mendekat: dua laki-laki dan satu perempuan muda. Kedua lelaki itu langsung masuk ke ruang PPA, meninggalkan si gadis berdiri terpaku tak jauh dari saya.

Ia hanya menunduk, memeluk kedua lengannya sendiri, seolah menggenggam ketakutan yang tidak mampu ia ucapkan.

Saya menatap wajahnya. Muda. Begitu muda. Seakan dunia belum sempat menawarinya mimpi yang indah, namun sudah memberinya luka yang terlalu berat untuk dipikul.

“Duduk sini dulu, Dek…” ujar saya pelan, takut suaraku terlalu keras untuk hatinya yang sedang rapuh.

Perlahan ia duduk di hadapan saya. Jemarinya gemetar. Ada air bening yang bertahan di sudut matanya, enggan jatuh, mungkin karena ia sudah terlalu sering menangis sehingga air mata pun kelelahan.

“Dari mana, Dek?” tanya saya hati-hati.

Dengan suara kecil yang hampir pecah, ia menjawab, “Saya… dari Temanggung, Mas.”

Saya mencoba tersenyum meski hati ikut tersayat. “Ada masalah apa? Kok sampai ke sini?”

Ia menunduk lebih dalam sebelum berbisik, “Saya… mau dijual, Mas… sama pemilik pantai di Bandungan.”

Dunia serasa berhenti sejenak.
Kata dijual itu menampar dada seperti hantaman gelombang dingin.

Di depan saya, anak perempuan berusia baru 17 tahun, membawa cerita yang seharusnya tidak pernah dialami manusia mana pun—apalagi seorang remaja.

Saya menelan ludah yang mendadak terasa kental. “Terus… dua orang yang tadi masuk itu siapa?”

Ia mengangkat wajah dan menjawab lirih, “Yang satu… kakak saya, Mas.”

Hanya itu.
Namun kata-kata itu cukup untuk membuat saya menghela napas panjang—panjang sekali—seakan mencoba mengeluarkan seluruh pedih yang tiba-tiba memenuhi dada.

“Kenapa… masih ada perbuatan seperti itu ya, Dek…” bisik saya dalam hati, lebih kepada diri sendiri daripada kepadanya.

Dalam ruangan Polres Semarang yang megah dan penuh keramahan itu, tiba-tiba saya tersadar:
dunia di luar sana masih menyimpan sisi gelap yang tak mampu dilawan semua orang. Dan kadang, yang tersakiti adalah mereka yang paling kecil…
paling muda…
paling tak berdaya.

Tak lama, hujan mengguyur Kota Semarang. Suara gemericiknya jatuh seperti menambah sendu suasana. Setelah mereda, saya berjalan kembali menuju tempat parkir. Saya tengok kanan dan kiri… namun penjaga parkir tidak tampak.

Saya masuk ke mobil sambil tetap menunggu. Lima menit saya menoleh ke sekitar, berharap bapak penjaga parkir muncul. Namun ia tak kunjung datang.

Dengan perasaan campur aduk, saya akhirnya pergi—tanpa sempat membayar jasa parkir.
“Padahal bapak itu baik…” pikir saya.
Ada sesak kecil yang tertinggal—sesak karena ketidaksengajaan yang tak bisa diperbaiki.

Di balik semua cerita kecil hari itu, saya melihat sesuatu yang tak semua orang mampu menangkapnya: ketulusan para anggota Polres Semarang.

Di bawah kepemimpinan Kapolres Semarang AKBP Ratna Quratul Ainy, S.I.K., M.Si., aura humanis itu terasa nyata. Meski tongkat komando berada di tangannya dan jabatan tinggi melekat di pundaknya, ia tetap dikenal merendah, menghargai, dan menghormati wong cilik.

Kepemimpinan seperti itu…
layak mendapatkan apresiasi,
layak dikenang,
dan layak menjadi teladan bagi banyak institusi lain.

Di balik megahnya bangunan Polres Semarang, tersimpan sebuah pelajaran sederhana: ramah-tamah adalah pelayanan paling mahal yang tak bisa dibangun dengan semen dan beton.

Penulis; iTO

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *