Sindiran Keras: Dana Desa Termin 2 Belum Cair, Para Kades Demo—Pengabdian atau Ajang Korupsi?

Berita Istana
2 Min Read

Sragen – Belum cairnya dana desa termin 2 tahun 2025 membuat sejumlah kepala desa turun ke jalan melakukan aksi demo. Fenomena ini langsung menuai perhatian publik, termasuk dari Warsito, Direktur Utama PT Berita Istana Negara sekaligus pemilik media Tiktok Mata Jateng, yang selama ini dikenal sebagai sosok tegas dan vokal terhadap isu penyimpangan anggaran.

Warsito menyindir keras para kepala desa yang ikut aksi tersebut. Menurutnya, jabatan kepala desa seharusnya didasari oleh semangat pengabdian, bukan semata-mata menunggu kucuran anggaran.

“Niat kalian jadi kades itu pengabdian atau hanya mencari celah korupsi dana desa? Desa itu sudah punya banyak sumber anggaran, mulai dari aspirasi DPRD kabupaten, DPRD provinsi, sampai berbagai bantuan pemerintah. Tapi begitu dana desa termin belum cair, kalian ribut dan demo. Ada apa sebenarnya?”

Warsito, Direktur Utama PT Berita Istana Negara

Sindiran itu menggugah banyak pihak. Pasalnya, masyarakat di lapangan juga melihat bahwa berbagai program desa tetap bisa berjalan karena ada tambahan anggaran dari banyak sumber lain. Namun anehnya, ketika dana desa terlambat cair, sebagian kades justru beraksi seolah seluruh roda pemerintahan berhenti.

Warsito menilai bahwa aksi demo tersebut patut dipertanyakan motivasinya. Ia menegaskan bahwa jika memang dasar menjadi kepala desa adalah pengabdian, maka pelayanan tetap bisa berjalan tanpa harus bergantung pada satu termin anggaran.

“Jangan sampai masyarakat mengira bahwa dana desa itu bukan untuk pembangunan, tapi untuk membangun kantong pribadi. Kalau dana cair baru semangat, tapi kalau tertunda malah turun ke jalan. Ini yang saya sebut—indikasi mental koruptif.”

READ  Semangat Tak Surut, Mahasiswa Raden Mas Said Lakukan Survei Sosial ke Desa Gilirejo Baru Sragen

Sebagai pimpinan redaksi Berita Istana sekaligus figur yang dikenal tegas dan independen, Warsito menekankan bahwa media akan terus mengawal transparansi dana desa, termasuk mengkritisi perilaku para kepala desa yang dianggap tidak mencerminkan sikap pelayan masyarakat.

Baginya, aksi demo para kades justru meninggalkan tanda tanya besar di masyarakat:
“Bekerja untuk desa atau bekerja untuk dana desa?”


@TikTok Mata Jateng

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *