TULUNGAGUNG, – Sosok Suci, seorang Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal Desa Suwaluh, Kecamatan Pakel, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur, menjadi perhatian publik. Perempuan yang saat ini bekerja di Taoyuan, Taiwan, tersebut dikenal melalui gaya komunikasinya yang blak-blakan dan keberaniannya menyampaikan kritik terhadap berbagai persoalan di daerah asalnya.
Meski berada ribuan kilometer dari kampung halaman, Suci tetap aktif mengikuti perkembangan Kabupaten Tulungagung. Melalui media sosial Facebook dan Instagram, ia kerap menyampaikan berbagai sorotan terkait infrastruktur, pelayanan publik, hingga persoalan penggunaan anggaran pembangunan yang menurutnya perlu mendapatkan perhatian.
Keberanian Suci dalam menyampaikan kritik membuat namanya semakin dikenal masyarakat. Ia bahkan kembali menjadi perbincangan setelah kasus operasi tangkap tangan (OTT) KPK yang menyeret Bupati Tulungagung saat itu, Gatut Sunu Wibowo, pada April 2026. Suci menyampaikan bahwa kritik-kritik yang sebelumnya ia lontarkan merupakan bentuk kepedulian terhadap kondisi daerah, bukan sekadar mencari sensasi.
Atas keberaniannya menyuarakan aspirasi masyarakat, Warsito, selaku Direktur Utama PT Berita Istana Negara sekaligus Koordinator SMSI Solo Raya, memberikan julukan kepada Suci sebagai “Singa Betina Jawa Timur”.
Menurut Warsito, julukan tersebut merupakan bentuk apresiasi terhadap keberanian seorang perempuan pekerja migran yang tetap peduli terhadap kampung halamannya, meskipun sedang mencari nafkah di luar negeri.
“Saya memberikan julukan Singa Betina Jawa Timur kepada Mbak Suci. Bukan tanpa alasan, tetapi karena keberaniannya menyampaikan kritik dan mengingatkan para pejabat agar tidak melupakan kepentingan masyarakat,” ujar Warsito, Minggu (1/11/2026).
Warsito menilai, kritik yang disampaikan masyarakat merupakan bagian penting dalam kehidupan demokrasi. Seorang pejabat publik harus terbuka terhadap masukan, koreksi, maupun kritik selama disampaikan dengan itikad baik dan berdasarkan fakta.
Ia juga mengapresiasi langkah Suci yang berani menyuarakan persoalan-persoalan daerah meskipun dirinya berada di Taiwan.
“Jangan melihat seseorang hanya dari tempat tinggal atau pekerjaannya. Walaupun Mbak Suci seorang PMI di Taiwan, kepeduliannya terhadap tanah kelahiran patut dihargai. Jarak ribuan kilometer tidak menghalangi seseorang untuk ikut mengawasi dan memperjuangkan kepentingan masyarakat,” tegas Warsito.
Lebih lanjut, Warsito mengingatkan bahwa kritik terhadap pejabat bukanlah bentuk permusuhan. Sebaliknya, kritik dapat menjadi bahan evaluasi agar penyelenggaraan pemerintahan semakin transparan, bertanggung jawab, dan berpihak kepada masyarakat.
Ia berharap Suci tetap menyampaikan aspirasi secara berimbang, mengedepankan data dan fakta, serta menjaga etika dalam bermedia sosial.
“Teruslah menyuarakan aspirasi masyarakat dengan cara yang bertanggung jawab. Kritik harus didukung bukti, bukan fitnah. Pejabat juga harus siap mendengar suara rakyat, bukan justru alergi terhadap kritik,” tambahnya.
Warsito menegaskan, masyarakat memiliki hak untuk mengawasi jalannya pemerintahan. Karena itu, setiap kritik yang disampaikan secara bertanggung jawab seharusnya dijadikan bahan introspeksi dan evaluasi bagi para pemangku kebijakan.
Julukan “Singa Betina Jawa Timur” yang disematkan Warsito kepada Suci pun menjadi simbol apresiasi atas keberanian dan kepeduliannya terhadap persoalan publik.

