Terpantau Saat Bupati Sragen Beli Cilok di Tempat Orang Hajatan di Girimargo Miri

Berita Istana
7 Min Read

Sragen – Pagi itu, udara Desa Girimargo, Kecamatan Miri, Kabupaten Sragen, masih terasa sejuk. Embun menempel di dedaunan, sementara burung-burung mulai riuh menyambut mentari yang perlahan naik dari ufuk timur. Di rumah sederhana milik almarhum Bapak Sarwadi dan Ibu Dewi Sugiyanti, tampak kesibukan yang luar biasa. Hari ini adalah hari yang dinantikan — hari pernikahan putri mereka, Alma Tika Sari, dengan pria pilihannya, Budi Kuswanto Rosid, S.T.

Pagi yang Sibuk di Griya Rias Yustin, Sejak pukul 05.00 pagi, Alma sudah bangun. Diiringi degup jantung yang tak menentu, ia melangkah ke ruang rias Yustin Griya Ayu, yang terletak di Kategan RT 02, Kelurahan Gemolong, Kecamatan Gemolong.
Nomor rias yang sudah terkenal itu — 081326191918 — seolah menjadi jaminan kecantikan setiap pengantin yang dipercantik oleh tangan-tangan profesional di sana.

Saat Alma keluar dari kamar rias, suasana seketika hening. Para tamu yang sudah datang lebih awal menatapnya kagum. Riasan klasik Jawa dengan sentuhan modern membuatnya tampak anggun dan berwibawa. Senyum tipis terukir di bibirnya, menyiratkan kebahagiaan dan rasa haru yang sulit disembunyikan.

Rombongan Datang, Musik Jawa Mengalun, Tepat pukul 10.00 WIB, iring-iringan 30 unit mobil dari pihak mempelai laki-laki tiba di lokasi. Jalan desa yang sempit seolah dipenuhi lautan mobil dan tawa bahagia. Musik gamelan Jawa mengiringi kedatangan mereka, dipandu oleh MC Genk Kojak, yang terkenal dengan suara khasnya yang berat dan berwibawa.
“Bapak-bapak, ibu-ibu, monggo disambut…!” suaranya bergema lewat pengeras suara, menambah suasana meriah di pagi yang cerah itu.

Dekorasi pelaminan indah dari My.Decor.Gemolong tampak sempurna. Pekerja dekor telah mempersiapkannya sejak sehari sebelumnya — bunga segar, tirai putih, dan lampu-lampu lembut membentuk panggung cinta yang elegan.

Di dalam rumah, suasana haru bercampur deg-degan. Mempelai pria duduk bersila, mengenakan busana adat Jawa berwarna putih dengan blangkon hitam di kepala. Tangannya tampak gemetar memegang tasbih kecil, menunggu saat yang paling sakral dalam hidupnya—ijab qobul.

Sementara itu, di sudut ruangan, Kepala KUA Kecamatan Miri, Chabibullah, berdiri dengan tenang. Sosoknya kharismatik, wajahnya memancarkan wibawa dan keteduhan seorang ulama yang sudah terbiasa memimpin akad nikah di berbagai desa. Suaranya lembut, namun tegas ketika ia mulai berbicara.

“Anak-anakku, sebelum ijab qobul dimulai,” ujar Chabibullah sambil menatap kedua mempelai dan keluarga yang hadir, “marilah kita sejenak menundukkan kepala, mengingat bahwa pernikahan bukan sekadar janji di depan manusia, tapi juga ikrar di hadapan Allah.”

Suasana menjadi hening. Hanya suara burung di luar jendela yang terdengar samar.
Chabibullah melanjutkan, kali ini dengan nada penuh penghayatan.

“Pernikahan itu bukan hanya tentang cinta dan kebahagiaan. Tapi juga tanggung jawab, kesabaran, dan saling memahami dalam suka maupun duka. Ketika nanti badai datang, jangan saling menyalahkan—tapi genggamlah tangan pasanganmu lebih erat, karena di sanalah keberkahan rumah tangga akan tumbuh.”

Air mata kecil tampak menetes dari mata ibu mempelai wanita.
Sementara mempelai pria menunduk dalam, menyadari betapa besar amanah yang akan ia terima.

“Ingatlah,” lanjut Chabibullah, “ijab qobul bukan sekadar ucapan ‘saya terima nikahnya’. Itu adalah janji seumur hidup. Maka, ucapkan dengan hati yang paling yakin, karena di sanalah Allah menurunkan rahmat dan kedamaian.”

Beberapa detik kemudian, suasana berubah menjadi khidmat.
Saksi-saksi bersiap. Buku nikah telah disiapkan di meja kecil beralas kain hijau.
Chabibullah tersenyum lembut, lalu menutup siraman rohaninya dengan doa.

“Ya Allah, satukanlah dua hati ini dalam kebaikan, jadikan rumah tangga mereka sakinah, mawaddah, warahmah…”

Suara “amin” menggema lirih di antara hadirin.
Dan setelah itu, dengan suara mantap, Chabibullah mempersilakan sang wali dan mempelai pria untuk memulai ijab qobul yang telah ditunggu-tunggu.

Akad dan Doa yang Menyentuh, Prosesi ijab qobul digelar di rumah mempelai perempuan pada Minggu, 9 November 2025, pukul 09.30 WIB. Suasana khidmat menyelimuti ruangan.
Saksi dari pihak mempelai perempuan adalah Warsito, Direktur Utama PT Berita Istana Negara, sedangkan saksi dari pihak mempelai laki-laki adalah Mujoko HS, S.Ag., M.Pd.I.

Dengan satu tarikan napas dan ucapan mantap, “Saya terima nikahnya Alma Tika Sari binti Sarwadi dengan mas kawin tersebut dibayar tunai,” Budi resmi mempersunting pujaan hatinya.
Tepuk tangan dan ucapan syukur pun menggema, diiringi tangis haru keluarga.

Kehadiran Bupati Sragen, Sekitar pukul 11.11 WIB, suasana menjadi semakin ramai. Bupati Sragen, Sigit Pamungkas, bersama sang istri, hadir di tengah-tengah acara.
Kehadiran mereka disambut hangat oleh warga dan para tamu undangan. Tak ada jarak antara pemimpin dan rakyatnya — semua larut dalam suasana kekeluargaan.

Yang membuat suasana semakin mencair adalah ketika Bupati Sigit tampak mampir ke salah satu gerobak cilok di sudut halaman.
Dengan senyum ramah, beliau membeli cilok panas dari pedagang lokal yang sedari pagi melayani tamu hajatan.
Tawa dan tepuk tangan warga pun pecah melihat momen sederhana itu. “Wah, Bupatine kita merakyat banget!” ujar salah satu tamu sambil mengabadikan momen dengan ponsel.

Dalam sambutannya, Bupati Sigit Pamungkas menyampaikan doa penuh makna kepada kedua mempelai.

“Semoga rumah tangga kalian menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah, penuh berkah, dan menjadi teladan bagi generasi muda Sragen,” ucapnya dengan suara tenang namun penuh wibawa.

Sorak gembira kembali terdengar, sementara pasangan pengantin menunduk haru menerima restu dari seorang pemimpin yang tak hanya datang untuk menghadiri — tetapi juga benar-benar hadir dalam kebahagiaan warganya.

Hari beranjak sore, musik gamelan perlahan digantikan alunan lagu dangdut pelan. Anak-anak berlarian mengejar balon, para tamu bersalaman dan berpamitan.
Namun satu hal yang tak terlupakan dari hari itu bukan hanya indahnya pesta pernikahan Alma dan Budi — melainkan juga sederhana dan hangatnya sosok Bupati Sragen yang membeli cilok di tengah hajatan rakyatnya.

Sebuah kisah kecil tentang pemimpin dan rakyat, tentang cinta dan kesederhanaan, yang akan dikenang warga Girimargo, Miri, Sragen — selamanya.

Penulis : iTO

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *