Dari Dapur ke Hati: Surat-Surat Cinta yang Mengalir dari Anak Sekolah untuk MBG 01 Gemolong

Berita Istana
4 Min Read

Gemolong, Sragen — Malam itu, langit Gemolong tampak lengang. Angin berhembus lembut menyentuh dedaunan di pinggir jalan raya Sragen Km 2. Di balik keheningan itu, di sebuah bangunan sederhana bercahaya temaram, hidup sebuah dapur yang tak pernah tidur — MBG 01.

Sebuah dapur sederhana yang berdiri di Jl. Raya Gemolong–Sragen Km 2, Dukuh Klentang, RT 08, Desa Klentang, Kecamatan Gemolong, setiap malam selalu terdengar suara gemericik air dan dentingan alat masak. Di sanalah, MBG 01 — singkatan dari Makan Bergizi — menyiapkan ribuan porsi makanan sehat untuk anak-anak sekolah.

Namun, bukan hanya aroma nasi hangat dan sayur bergizi yang memenuhi dapur itu, melainkan juga aroma cinta yang datang dalam bentuk sederhana: surat-surat kecil dari anak-anak sekolah.

Surat-surat itu diselipkan di food tray — atau yang akrab disebut ompreng — tempat makan yang dikembalikan setiap hari. Kalimatnya polos, tapi penuh makna:

“Pak, besok buahnya ganti anggur merah ya.”

“Alhamdulillah, Pak, ada makan bergizi. Akhirnya saya bisa menabung.”

“Request ayam geprek, minum susu ultramik, ya Pak!”

Bagi para relawan MBG 01, membaca surat-surat itu menjadi hiburan tersendiri. Rasa lelah mencuci, memasak, dan mengantarkan ribuan makanan seolah lenyap tergantikan senyum kecil dan tawa bahagia.

Dapur yang Tak Pernah Tidur , Saat tim Berita Istana berkunjung pada pukul 20.00 WIB, suasana dapur masih hidup. Beberapa relawan baru saja selesai mencuci ompreng, memastikan setiap wadah bersih mengilap sebelum digunakan kembali esok hari.

Ukuran dapur yang mencapai 18 x 22 meter itu tertata rapi. Ada ruang khusus untuk mencuci, area memasak, dan tempat penyimpanan bahan makanan. Setelah dicuci, ompreng di-open dengan suhu 90 derajat Celsius — memastikan tak ada bakteri yang tersisa.

“Semua harus steril, karena ini untuk anak-anak,” ujar salah satu relawan sambil menata baki.

Setiap sayuran diperiksa ulang sebelum dimasak. Kualitas dan kebersihan menjadi prioritas utama. Tak heran, meski lelah, para pekerja tampak bangga dengan apa yang mereka lakukan.

Manfaat yang Meluas ke Masyarakat ; Program MBG 01 bukan hanya memberi manfaat bagi anak-anak sekolah, tapi juga membuka peluang kerja bagi warga sekitar. Sedikitnya 47 relawan dilibatkan setiap harinya — mulai dari bagian memasak, pengemasan, hingga distribusi.

“Sekarang kami bisa ikut bekerja di sini. Lumayan, bisa bantu ekonomi keluarga,” ungkap salah satu warga.

Selain mengurangi pengangguran, dapur ini juga menjadi contoh nyata pelaksanaan program utama Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka dalam pemenuhan gizi anak bangsa melalui SPPG (Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi).

Surat-Surat Cinta yang Menyembuhkan Lelah

Setiap kali ompreng kembali ke dapur, para relawan menantikan kejutan kecil dari anak-anak: sepucuk surat dengan tulisan tangan mungil.

Ada yang menulis permintaan menu:

“Request burger ayam kaki dua, Bu Spenip (79)!”
“Request bakso, Pak, plis!”

Ada juga yang menulis dengan polos:

“Pak, buahnya anggur hijau ya, biar segar.”

Membaca surat-surat itu, para relawan tersenyum. Rasa kantuk di tengah malam sirna seketika. “Capek hilang kalau baca surat-surat ini,” kata seorang relawan sambil tertawa kecil.

Dapur Cinta Itu Bernama MBG 01 ; MBG 01 bukan sekadar dapur pemenuhan gizi. Ia adalah tempat di mana cinta, kepedulian, dan kerja keras berpadu untuk masa depan anak-anak bangsa.
Dari tangan para relawan dan aroma masakan bergizi, lahirlah kisah-kisah kecil yang menghangatkan hati — kisah tentang bagaimana sebuah dapur bisa menebar cinta, satu ompreng dalam satu waktu.
(iTO)

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *